CREATIVE TALKS: Pertunjukan #1

Sebagai salah satu wadah berkarya bagi kru LFM ITB, pertunjukan adalah bidang yang mempelajari bagaimana menampilkan karya dalam media ekshibisi. Dari mulai mengonsep, mengeksekusi, hingga menyajikan karya dalam Ekshibisi. Demi menginspirasi para kru untuk menciptakan karya-karya baru, Pertunjukan mengadakan Creative Talks dengan topik “Peran Kuratorial dalam Dunia Ekshibisi” yang pada kesempatan kali ini mendatangkan Kak Asep Topan yaitu seorang kurator dan pengajar seni rupa asal Jakarta.

Pemaparan materi dimulai dengan judul “Praktik Kekuratoran Seni Rupa” dan dilanjutkan dengan judul “Membuat Pameran Seni Rupa”.

Praktik Kekuratoran Seni Rupa

Kurator Museum Seni

Kurator seni rupa yang bekerja di dalam institusi seperti museum memiliki tanggung jawab yang searah dengan visi dan misi institusi tersebut. Dalam institusi besar, jumlah kurator biasanya lebih dari satu orang dengan beragam spesialisasi seperti kurator karya koleksi, kurator seni modern, kurator seni kontemporer, kurator lukisan, kurator arsip, dlsb.

Dalam beberapa institusi seni (museum, galeri nasional) yang memiliki koleksi, tugas kurator secara umum terdiri dari 3 bagian utama.

  1. Sebagai orang yang mengurus benda koleksi (merawat hingga mengajukan proses akusisi);
  2. Sebagai peneliti benda koleksi tersebut;
  3. Sebagai orang yang merencanakan sebuah pameran untuk publik.

Selain ketiga tugas utama tersebut, seorang kurator di dalam institusi juga memiliki tanggung jawab administrasi yang besar. Ia harus mengatur lalu lintas peminjaman benda koleksi baik ke dalam maupun ke luar institusi, melakukan pengarsipan bersama registrar, bekerja bersama konservator dalam pengecekan kondisi karya, hingga mempersiapkan kesepakatan dan kontrak kerja bersama seniman untuk pameran yang bersifat temporer.

Beberapa tugas tersebut memiliki struktur yang dapat memperlambat kerja kurator, karena keperluan birokrasi dalam institusi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan banyak hal. 

Dengan struktur dan hirarki yang lebih tertata, kurator di sebuah institusi biasanya memilki tingkatan tersendiri. Susunan jabatan secara umum dapat terdiri dari 

  • Direktur Museum
  • Kurator Kepala (Chief Curator)
  • Asisten Kurator
  • Curatorial Assistant

Kurator Independen

Kurator yang bekerja di luar institusi seni biasanya disebut sebagai kurator independen, freelance curator, atau unaffiliated curator. Ketiga istilah ini merujuk pada posisinya yang berada di luar institusi, dan bekerja secara lebih mandiri. Meskipun demikian, tidak jarang juga seorang kurator independen bekerja secara temporer untuk sebuah institusi, terutama dalam penyelenggaraan pameran temporer. Ia bisa saja memiliki komitmen dengan lebih dari satu institusi dalam waktu yang berlainan.

Salah satu kelebihan kurator independen ialah memiliki kebebasan artistik yang lebih besar dibandingkan dibandingkan dengan kurator museum, karena ia tidak terikat dengan peraturan institusi secara langsung. Kurator independen dapat menentukan sendiri dengan siapa ia ingin bekerja dan bagaimana cara ia mengerjakannya. Setiap pilihan-pilihan yang ia ambil mencerminkan gagasan dan cara pandang seorang kurator independen; seperti pemilihan nama perupa, gagasan pameran, hingga lokasi tempat penyelenggaraan pameran.

Kurator di luar institusi

Seorang kurator independen dianggap memiliki idealisme yang lebih besar karena memiliki kebebasan dalam menentukan apa yang ingin ia kerjakan. Bagi kurator di dalam museum, apa yang ia kerjakan dapat dikatakan mewakili kepentingan institusi tempat ia bekerja.

Membuat Pameran Seni Rupa

Secara umum, pekerjaan kurator seni rupa ialah meliputi perancangan konsep dan implementasi pameran seni rupa. Dalam berbagai kesempatan, hal ini sangat tergantung oleh jenis pameran itu sendiri. 

Secara konvensional, jenis-jenis pameran seni rupa umumnya meliputi:

  • Pameran tunggal
  • Pameran kelompok
  • Pameran tematik
  • Pameran berdasarkan medium
  • Pameran berdasarkan undangan terbuka (open invitation/submission)
  • Pameran berdasarkan karya baru
  • Pameran berdasarkan karya yang telah ada (existing works)
  • Pameran survey
  • Pameran retrospektif
  • dan lain sebagainnya.

Sebuah pameran bisa saja memiliki lebih dari satu jenis yang tertera di atas, misalnya kalian bisa membuat pameran kelompok dengan berdasarkan karya yang telah ada, atau kalian pasti pernah mendengar sebuah pameran tunggal yang bersifat retrospektif dari seorang perupa senior.

Dalam contoh pameran kelompok yang bersifat tematik, tahapan pembuatan pameran ialah:

  1. Kurator menentukan tema pameran

Tema pameran dapat berupa isu yang akan mengerucutkan gagasan-gagasan setiap karya yang dipilih. Dalam penentuan tema pameran, sang kurator dituntut untuk menguasai persoalan yang terkait dengan isu tersebut. Oleh karenanya pengetahuan sang kurator juga perlu meluas di luar persoalan sejarah seni dan estetika, namun juga akrab dengan kajian pengetahuan lain seperti humaniora, sains, dan politik misalnya.

  1. Kurator mengidentifikasi perupa yang akan diundang

Bagian ini terkait riset artistik yang dilakukan oleh seorang kurator. Salah satu keahlian kurator yang perlu terus diasah adalah mengidentifikasi dan mencari perupa yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan studi literasi (membaca buku, katalog pameran, website atau bahkan instagram perupa); melakukan studio visit atau berkunjung ke studio perupa dan mendiskusikan karya mereka. Keahlian mengidentifikasi perupa ini sangat penting bagi seorang kurator, karena terkadang baik tidaknya pekerjaan kurator itu dapat dilihat dari pilihan perupa-nya.

  1. Kurator mengidentifikasi pendekatan kekaryaan perupa yang diundang

Ini adalah proses yang lebih jauh lagi dalam riset artistik. Karena di sini seorang kurator perlu menelaah secara rinci bagaimana pendekatan kekaryaan seorang perupa. Pendekatan atau approach dapat diartikan sebagai bagaimana cara dia berkarya dilihat dari gagasan artistiknya. Hal ini bisa terkait dengan medium karya, idiom berkarya, hingga persoalan tematik.

Contoh: dalam mengidentifikasi seorang perupa yang berkarya dengan medium kolase, kurator dapat mempertanyakan apa kaitan gagasan dari kolase tersebut dengan tema karyanya? Atas dasar apa pemilihan gambar temuan atau found images itu dilakukan? apakah ada perspektif sejarah dalam karya tersebut? Lalu, apakah ada perupa lain yang melakukan hal serupa sebagai perbandingan?

  1. Kurator mendiskusikan tema pameran bersama perupa dan karya-karyanya

Setelah menentukan sebuah tema pameran, biasanya seorang kurator memiliki sebuah teks ‘sementara’ yang disebut sebagai Curatorial Rationale. Teks ini berisikan gagasan awal mengenai pameran yang kemudian dapat menjadi pijakan awal diskusi bersama perupa yang diundang dalam pameran.

  1. Kurator bersama perupa menyepakati karya mana atau karya seperti apa yang akan dipamerkan, berdasarkan dialog sebelumnya

Setelah diskusi dilakukan, kurator dan perupa menyepakati karya mana saja yang akan ditampilkan di dalam pameran. Hal ini dipengaruhi oleh diskusi yang sebelumnya dilakukan terkait tema, ketersediaan karya, dan kondisi karya itu sendiri.

  1. Kurator menentukan bagaimana caranya memajang semua karya dari perupa yang diundang di dalam sebuah pameran

Dalam tahapan ini, seorang kurator biasanya bekerja dengan desainer pameran. Namun dalam kasus tertentu yang lebih sederhana, seorang kurator cukup melakukan simulasi sederhana yang kemudian dibantu oleh art handler dalam memajang karya seninya.

  1. Kurator menuliskan pengantar pameran dan material teks lainnya

Pengantar pameran biasanya ditulis dan ditampilkan di dinding sebuah ruang pameran. Biasanya tulisan ini juga terdapat di dalam katalog. Terkadang tulisan pengantar pameran disebut juga sebagai pengantar kuratorial, atau catatan kuratorial. Inti dari tulisannya tetap sama, yaitu memberikan informasi mengenai pameran meliputi gagasan tematik, karya seperti apa saja yang dapat dinikmati di ruang pameran, hingga relevansi pameran tersebut dalam perkembangan seni rupa saat ini atau isu yang diangkat. Sedangkan material teks lain bisa berupa profil para perupa, dan deskripsi karya.

  1. Penyusunan Publikasi

Publikasi bukan hal yang mutlak harus diadakan dalam sebuah pameran. Biasanya ia berupa katalog atau buku. Dalam contoh yang sederhana, sebuah publikasi bisa saja hanya berbentuk leaflet yang berisikan tulisan pengantar pameran, profil perupa, dan foto-foto karya. Dalam format katalog yang lebih besar, sebuah publikasi bisa berdasarkan pada riset yang panjang. Selain pengantar pameran, jenis publikasi seperti ini biasanya menjelaskan konsep setiap karya satu persatu, terdapat juga esai yang ditulis oleh penulis undangan, hingga foto-foto karya, foto dari arsip perupa atau proses pembuatan pamerannya. Dalam publikasi besar ini, diperlukan tim editorial khusus layaknya pembuatan buku.

Dalam beberapa kesempatan, publikasi pameran bisa juga hadir belakangan (post-event publication), agar foto-foto yang terdapat di dalam publikasi ini merupakan foto asli di ruangan pameran setelah pameran dibuka.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pameran kelompok:

  1. Komposisi perupa

Upayakan memilih perupa dengan komposisi gender yang seimbang, atau mengutamakan para perupa perempuan – mengingat dunia seni rupa yang masih didominasi oleh perupa laki-laki. Dengan ini kita bisa sedikit berkontribusi pada penambahan representasi perupa perempuan yang masih minim.

Upayakan juga memilih perupa dengan medium yang tidak saling menjatuhkan atau melemahkan satu karya lain. Misalnya menampilkan terlalu banyak karya video dalam satu pameran, padahal pamerannya bukan tentang video. Atau menampilkan satu drawing kecil di antara lukisan-lukisan yang besar. Upayakan pilihan medium yang dapat terlihat harmonis dalam sebuah pameran. Aspek lainnya bisa berupa pemilihan generasi perupa, kota asal perupa, negara asal perupa, dslb tergantung jenis pamerannya.

  1. Diskusi dengan perupa

Proses diskusi dengan para perupa harus diupayakan bersifat setara. Artinya tidak ada salah satu pihak yang mendominasi diskusi dan menempatkan kuasa yang berlebihan terhadap pihak lain. Hal ini sering terjadi jika salah satu dari mereka adalah praktisi senior dan yang lainnya masih generasi baru. Dalam proses ini, penyalahgunaan ‘kuasa’ sang kurator kerap terjadi, dan perlu dihindari.

  1. Tulisan kurator

Dalam pameran tematik, biasanya seorang kurator menuliskan sebuah hipotesis awal mengenai tema yang diangkat, biasanya tulisan ini digunakan sebagai bacaan awal untuk berdiskusi dengan seniman. Seperti disinggung sebelumnya, hipotesis awal ini disebut sebagai Curatorial Rationale.

Curatorial Rationale dapat berubah dan berkembang setelah diskusi dengan perupa dilakukan dan karya telah terpilih. Dari sini, kurator mulai menuliskan Pengantar Pameran yang menjelaskan gagasan pameran secara umum.

Selain itu, biasanya kurator juga menulis caption karya dan juga deskripsi karya yang ditampilkan di dalam pameran untuk menjembatani gagasan sang perupa kepada khalayak yang lebih luas, dengan bahasa yang mudah dimengerti.

  1. Alternatif

Selain mempertimbangkan hal-hal di atas, seorang kurator juga perlu membuat sebuah perkiraan alternatif bagi setiap perupa dan karya yang ingin dipamerkan. Hal ini bisa saja terkait dengan hal teknis, logistik, dan mungkin administratif.

Contoh:

Dalam memilih sebuah karya dari perupa asal luar negeri, pertimbangan yang kerpa dilakukan juga adalah terkait biaya pengiriman karya. Jika pameran yang kamu kerjakan memiliki sedikit dana untuk hal ini, sebuah alternatif bisa dilakukan dengan misalnya: memilih karya yang berukuran kecil, memilih karya dengan format file digital (dikirim melalui internet) atau mengundang perupanya ke Indonesia untuk membuat baru di sini sehingga biaya pengiriman bisa diminimalisir.

Bagaimana menilai sebuah pameran tematik?

Beberapa pertanyaan dapat diajukan untuk menilai sebuah pameran tematik, diantaranya:

  • Jika pameran seni rupa kontemporer, apakah tema pameran tersebut relevan dengan kondisi saat ini?
  • Bagaimana kaitan antara gagasan pameran dan perkembangan wacana (discourse) mengenai isu tersebut di luar dunia seni rupa?
  • Apakah karya-karya para perupa memiliki kaitan yang kuat dengan gagasan kuratorial yang ditawarkan?
  • Apakah kekaryaan para perupa dalam pameran tersebut secara konsisten membahas tema pameran?
  • Apakah komposisi perupa (gender, medium, generasi, dll.) cukup seimbang?
  • Apakah di dalam pameran, karya-karya tersebut selaras antara satu sama lain dalam pemajangannya?

Contoh-contoh pameran tematik

Festival Seni Media Internasional 2019 Instrumenta #2: ‘Machine/Magic’

http://galeri-nasional.or.id/newss/225-festival_seni_media_internasional_2019_instrumenta_2_machinemagic

Pameran ‘Five Passages to The Future’

http://galeri-nasional.or.id/newss/758-pameran_five_passages_to_the_future

Pameran ‘Dunia Dalam Berita’

https://www.museummacan.org/exhibition/event-1555392166?lang=id

Pameran Jakarta Biennale ‘Jiwa’

https://www.biennialfoundation.org/2017/11/jiwa-jakarta-biennale-2017/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *