CREATIVE TALKS: Pertunjukan #2

Sebagai salah satu wadah berkarya bagi kru LFM ITB, Pertunjukan adalah bidang yang mempelajari bagaimana menampilkan karya dalam media ekshibisi. Dari mulai mengonsep, mengeksekusi, hingga menyajikan karya dalam Ekshibisi. Demi menginspirasi para kru untuk menciptakan karya-karya baru, Pertunjukan mengadakan Creative Talks yang kedua dengan topik “Ekshibisi Virtual VS. Ekshibisi Fisik” yang pada kesempatan kali ini mendatangkan para kru LFM sendiri, yaitu Aristina Marza, Fakhrell Izzan, Husnul Abidah, dan Dasa Brasdia.

Pembicara pertama, Dasa Brasdia, berbagi pengalaman tentang ekshibisi online yang dilaksanakannya pada platform media sosial Instagram, yaitu Kala Sendiri. Kala Sendiri berisi tentang perjalanan diri sendiri menghadapi kesendirian di tahun 2021. Ekshibisi ini terdiri dari empat babak yaitu Keluarga, Rekan/ Kawan, Romansa, dan Konklusi. Menurutnya, pameran online memiliki keuntungan approachable/ user friendly, beralur ke bawah, tahu pasti interaksi dari pengunjung seperti likes, comments, shares, dan mudah untuk disebarluaskan. Di sisi lain kekurangannya adalah penentuan layout feeds yang tidak sesuai rencana awal, harus bolak-balik Photoshop dan Instagram untuk edit dan testing, dan beberapa kendala pribadi yaitu kurasi jurnal dan puisi, pembuatan photobook yang mepet, dan strategi publikasi dan interaksi kurang matang. Tantangan yang dihadapi adalah bekerja sendiri, konsep teknis pameran Instagram, cara “memasukkan” photobook ke dalam post, tanpa mengubah makna dari karya, dan beberapa tantangan pribadi yaitu cara berkarya yang inkonvensional, mengulas kembali masa lalu yang cukup traumatis, dan bergulat dengan perasaan sendiri.

Pembicara kedua, Husnul Abidah, berbagi pengalaman menjadi pemimpin proyek Ganesha Exhibition Programme: Kausarupa yang dilaksanakan secara online menggunakan platform website. Proses perencanaan yang ada yaitu mulai dari menentukan tema yang ingin dibawakan dalam GEP tahun ini, menentukan metode pelaksanaan online atau offline,  dan menentukan timeline, pre-event, serta event yang akan ada di GEP. Pelaksanaan GEP secara online dilakukan dengan pertimbangan gelombang ke-2 Covid, jangkauan pameran yang lebih luas, masih bisa dieksplor lebih dalam, dan proses persiapan bisa lebih fleksibel dari segi SDM maupun biaya. Menurutnya, pameran online memiliki keuntungan dapat diakses dimana saja, jangkauan target pengunjung yang lebih luas, masyarakat mulai terbiasa dengan metode online, dan butuh lebih sedikit SDM dan biaya lebih sedikit. Di sisi lain, kendala yang dihadapi adalah masyarakat yang mulai jenuh dengan kondisi online, tema dengan penurunannya yang kurang familiar di masyarakat, dan kondisi online menyulitkan kurasi dalam mencari dan mendorong kru untuk berkarya. Pada akhirnya untuk menyelesaikan semuanya, pensuasanaan pameran dilakukan dari jauh hari dengan pre-event, menyosialisasikan tema yang dibawakan lewat konten dan publikasi yang teratur di media sosial, dan terus mendorong kru untuk berkarya dalam beberapa kali submisi.

Pembicara ketiga, Fakhrell Izzan, berbagi pengalaman tentang pameran offline yang pernah ia ikuti yaitu IAWR dan Lokamasa. Ia mengangkat dua poin yaitu ‘berpameran di arsitektur’ dan ‘berarsitektur di pameran’ dengan menggunakan beberapa contoh pameran offline seperti prihal andramatin, hideyuki nakayama: now and then, occupying modernism, venice biennale untuk membayangkan kedua poin yang disampaikan sebelumnya. Dari beberapa hal yang ia lihat tentang keterkaitan arsitektur dan pameran, ada kurang lebih 3 poin yang ia simpulkan yaitu objek pameran, tentang kuratorial, dan sensibilitas terhadap ruang. 

Pembicara keempat, Aristina Marzaningrum, berbagi pengalaman tentang menjadi supervisor GEP: Ragam Rassam, Pamer! Arsip, Pameran Selasar: BACA!, dan beberapa pameran kecil yaitu Pameran Selasar: Basian Liburan! yang dilaksanakan secara offline. Dari pameran yang pernah ia ikuti dan buat, ia belajar bahwa ekshibisi offline itu selalu tricky dan iteratif untuk mentranslate konsep dan menghubungkan objek/ karya dengan ruang yang ada. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebaiknya paham dan bisa menguasai alat, material, dan benda-benda pendukung, paham dan bisa menentukan alur, tata letak, dan cahaya, mengonsep sesuai budget, dan paham bahwa besar pameran selaras dengan banyaknya sumber daya.

Ditulis oleh: Natasha (kru’20)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *