JAKARTA BIENNALE 2021: ESOK

Jakarta Biennale adalah sebuah pameran seni berskala internasional yang telah diselenggarakan secara berkala sejak 1974. Pada tahun 2021, Jakarta Biennale mengangkat tema “Esok” melalui pameran seni kolaboratif dari berbagai seniman Indonesia dan juga mancanegara. Dengan membawa berbagai topik sosial seperti hak asasi manusia, lingkungan, keberagaman, kesetaraan, politik, hingga teknologi, “Esok” bertujuan untuk memantik semangat kolektif dalam melakukan perubahan demi masa depan yang lebih baik.

 

Pameran ini dibuka untuk umum pada tanggal 21 November 202122 Januari 2022 di empat tempat, yakni Museum Nasional, Museum Kebangkitan Nasional (STOVIA), Taman Menteng, dan Cikini. Hadir di tengah masa pandemi, “Esok” menjadi angin segar terutama bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Meskipun dilakukan banyak penyesuaian seperti pendaftaran daring, batas kuota pengunjung, dan jadwal berkunjung, Jakarta Biennale cukup mampu menerapkan protokol kesehatan tanpa mengurangi esensi pengalaman dan euforianya. 

 

Lokasi terbesar sekaligus yang pertama saya kunjungi adalah Museum Nasional. Pameran di tempat tersebut terbagi dalam beberapa ruangan yang diarahkan oleh rambu-rambu sehingga memudahkan navigasi. Instalasi karya yang dipajang terbilang cukup banyak dan memanfaatkan media yang bervariasi serta unik. Tak jarang pula mereka bersifat interaktif, contohnya menggowes sepeda, memainkan gitar, dan mendengarkan lagu. Hal tersebut menggiring pengunjung untuk memanfaatkan indra visual, audio, hingga kinetik dalam menikmati karya-karya yang ada, sehingga tiap instalasi cenderung lebih berkesan.

Selanjutnya, saya mengunjungi Jakarta Biennale di Museum Kebangkitan Nasional. Menurut saya, suasana historis gedung STOVIA berhasil dimanfaatkan secara maksimal bahkan menjadi penunjang penting dari beberapa instalasi yang dihadirkan di tempat ini. Seperti di Museum Nasional, karya-karya ditampilkan secara terpisah di dalam beberapa ruangan, namun media yang digunakan terasa lebih berani dan eksperimental dibandingkan sebelumnya. Pensuasanaan tiap ruangan juga disesuaikan dengan intensi masing-masing karya sehingga pengunjung akan merasakan perbedaan kontras yang di luar ekspektasi. Meskipun demikian, tidak ada batas yang jelas antara instalasi Jakarta Biennale dan STOVIA itu sendiri sehingga mungkin menimbulkan kerancuan di sebagian ruangan.

Taman Menteng merupakan lokasi Jakarta Biennale ketiga yang saya datangi. Berbeda dengan dua lokasi sebelumnya, pameran di sini fokus menampilkan karya ilustrasi dengan media kertas dan cat air. Temanya juga didominasi oleh  alam terutama flora, disesuaikan oleh latar tempatnya yakni rumah kaca. Apabila dibandingkan dengan lokasi lainnya, Taman Menteng terkesan kurang memiliki narasi dan agak monoton karena tidak bersifat interaktif. Meskipun demikian, karya-karya yang dipamerkan tetap terlihat profesional dan patut diapresiasi. Pencahayaan alami yang menembus dari segala arah juga  membuat ekshibisi terkesan asri, sebuah suasana yang sudah sulit ditemukan terutama di tengah kota besar seperti Jakarta.

 

Ada beberapa instalasi yang menonjol bagi saya, salah satu diantaranya adalah “Susur Leluri” di STOVIA. Karya tersebut disajikan dalam bentuk permainan kartu berisi narasi bersambung yang dapat dipilih sendiri jalan ceritanya oleh para pengunjung. Saya tertarik pada karya ini karena berhasil menciptakan analogi antara suatu hal umum yang sederhana yakni cerita tradisional “Si Kancil” dengan suatu hal yang mungkin masih dianggap tabu untuk dibahas di muka umum yakni glorifikasi sejarah peristiwa 1965 di Indonesia. Didukung oleh alunan lagu “Si Kancil” dan pemutaran video di dalam ruangan remang-remang, instalasi ini telah memberikan sudut pandang menarik yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

 

Di luar berbagai keunggulannya, ada beberapa hal yang masih bisa diperbaiki dari pameran “Esok”. Menurut saya, konteks dan latar belakang dari tiap karya kurang mampu disampaikan dengan baik karena hanya mengandalkan QR Code berisi penjelasan yang minim. Padahal, intensi seniman dan proses pengerjaannya mempunyai kemampuan untuk meningkatkan atau bahkan memutarbalikkan makna karya tersebut. Selain itu, korelasi antar instalasi juga kurang terasa karena tema yang diangkat masih sangat luas dan tidak ada segmentasi narasi yang jelas dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Meskipun demikian, rangkaian Jakarta Biennale 2021 tetap merupakan pameran seni yang layak dikunjungi. Aspek interaktif dan pemanfaatan media mampu mengajak pengunjung dari beragam latar belakang untuk mengalami sekaligus merasakan hal-hal baru. “Esok” juga telah berhasil menjadi inspirasi sekaligus menghidupkan kembali dunia seni Indonesia di tengah masa pandemi.



Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *