Review JIPFEST 2021

JIPFEST 2021

Akhir tahun 2021 menandai percikan dalam berbagai pameran yang diadakan secara luring , salah satunya adalah Jakarta International Photography Festival atau JIPFEST 2021. JIPFEST adalah sebuah festival fotografi berskala internasional yang dirintis pada tahun 2019 dan telah diadakan setiap tahun sejak itu. Pada November 2021, mereka mengangkat tema “SPACE” dengan niat mengeksplorasi isu “ruang” dalam berbagai tafsir dan bentuk, dari ruang publik, ruang batin, hingga ruang maya. JIPFEST tahun ini dilaksanakan di Kota Tua, salah satu landmark sejarah sekaligus budaya paling penting di Jakarta, dan kini telah menjadi lokasi yang sering dipakai untuk berbagai acara berbau kesenian. 

 

Dari tiga lokasi yang tersebar di kawasan Kota Tua, saya pertama berkunjung ke Candra Naya yang berisi Photo Exhibition Open Call. Menurut saya, JIPFEST berhasil membangun pensuasanaan yang baik untuk tiap karyanya. Karya-karya tersebut ditampilkan secara terpisah dalam ruangan masing-masing dan suasana setiap ruangan didukung dengan penggunaan properti, pencahayaan, dan warna dinding yang sangat cocok dengan color palette serta mood karya yang ditampilkan.


Selanjutnya, saya berkunjung ke MULA Kota Tua yang menampilkan dua pameran, yaitu Photo Exhibition dan Photobook Exhibition. Photo Exhibition menampilkan photo series karya Edial Rusli yang ditempatkan di sebuah ruangan kecil, cocok untuk memamerkan karya satu fotografer. Untuk Photobook Exhibition, saya harus  menaiki tangga hingga lantai tiga dan memasuki sebuah ruangan berisi meja serta kursi yang disediakan untuk pengunjung menikmati beragam buku foto. Di sini, para pengunjung dapat dengan sungguh menyelami tiap karya yang ada, terutama karena ruangan ini terasa nyaman, lengkap dengan pendingin dan juga pengharum ruangan.


Satu jam bukanlah waktu yang cukup bagi saya untuk mengeksplorasi ekshibisi foto buku, namun saya harus berpindah ke lokasi selanjutnya yakni Historia Kota Tua. Saya mengunjungi Historia pada malam hari, waktu yang menurut saya paling mendukung dan cocok dengan tema karya-karya itu sendiri. Historia menampilkan  kolaborasi JIPFEST dengan beragam organisasi fotografi independen, dan di sini lah menurut saya terdapat karya-karya yang paling menyentuh dan berkesan. Dari semua instalasi yang ada, terdapat sebuah tema yang seragam yaitu semua subjek utamanya merupakan manusia, terutama orang-orang yang didiskriminasi dan dilupakan. Di sini, suara mereka tersampaikan melalui rangkaian karya fotografi yang indah sehingga mampu meninggalkan kesan mendalam dan menghantui pikiran para pengunjung bahkan seusai dari lokasi ini.

 

Pameran di lokasi ini juga memanfaatkan dekorasi dan properti untuk mendukung pesan fotografer, seperti puing-puing untuk pensuasanaan proyek foto Kenangan akan Rumah yang menceritakan tentang warga Tamansari yang mengalami penggusuran, dan perabotan rumah untuk foto series Dengan Syarat yang mengangkat isu poligami. 

 

Meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan dari JIPFEST. Menurut saya, ada masalah krusial dari pameran tersebut adalah kurangnya rambu-rambu untuk pemandu arah. Para pengunjung yang belum pernah ke Kota Tua sebelumnya akan merasa bingung dan tersesat ketika mencari pintu masuk dan lokasi pameran karena tidak ada rambu yang bisa menjadi panduan. Bahkan saya sendiri perlu bertanya kepada petugas meskipun saya sudah pernah ke Kota Tua sebelumnya. Terlepas dari kekurangan tersebut, JIPFEST tetap merupakan sebuah pengalaman berkesan bagi saya karena telah mampu mempresentasikan beragam karya fotografi menarik. Secara keseluruhan, mengunjungi JIPFEST secara berkala adalah suatu hal yang saya rekomendasikan untuk semua orang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *