Bincang bersama ‘Boljug Eyesight’: Kritik Sistem Pendidikan Fotografi di Unit-unit Kampus

Akhir semester genap selalu menjadi momen bagi kru LFM ITB untuk berkarya di daerah-daerah yang tidak selalu terjangkau oleh keseharian. Namun, karena suatu hal saya terpaksa harus menyusul rombongan kru LFM mengikuti event hunting tahun ini (kini JALAN! Besar disebutnya) dengan langsung meluncur ke sebuah kota yang katanya kembarannya Kota Bandung, yaitu Kota Malang. Saya harus stay di Malang selama 20 Jam sejak jam 7 pagi sebelum bergabung dengan rombongan. Singkat cerita saya ditemani dan diakomodasi oleh seorang kawan bernama Amri, seorang dokter gigi lulusan UB angkatan 2009 yang ternyata kawan SMA-nya kak Aviandito, Ketum LFM 2012-2013. Rumah tua sederhana yang ditinggali Amri akhir-akhir ini disulapnya menjadi ruang bagi para fotografer di Malang untuk berdiskusi dan mengembangkan karyanya yang dikenal dengan ruang “Dari Masalalu”. Tanpa disangka-sangka Amri mengabari komplotannya bahwa saya mampir ke rumahnya, lantas sembari menghabiskan waktu di Malang saya bersama rekan-rekannya Amri berdiskusi dan hunting di Alun-alun hingga senja tiba. Seusai kegiatan impulsif tersebut, saya diajak Amri mengembalikan beberapa buku ke seseorang bernama Abah Boljug. Menurut temannya, Izzun, Abah Boljug ini adalah fotografer senior di Malang, kawan seperjuangannya Mbak Ng Swan Ti semasa muda. Tanpa berpikir panjang saya pun ikut Amri ke rumah sederhananya di dekat perumahan Araya. Setibanya di ruang tengah rumahnya tiba-tiba saya dikejutkan dengan jamuan Abah Boljug yang sederhana namun buanyak dan lezat: seabreg belut goreng ditambah tempe goreng beserta sambel dan lalabannya. Tak lama ruang tengah itu tiba-tiba menjadi ruang diskusi dengan bahasan-bahasan yang menarik dari pengalaman-pengalaman Abah Boljug.

Dari semua pembahasan, yang paling berkesan dan menarik bagi saya adalah bahasan tentang pendidikan fotografi di unit-unit kampus Malang. Sedikit latar belakang, Abah Boljug sering diundang oleh UKM Fotografi Kampus di Malang dalam proses pendidikan disana. Beliau pun cukup terlibat dalam proses tersebut dimulai dari proses perencanaan konsep karya yang akan diciptakan oleh calon anggotanya.

Abah Boljug beranjak dari tempat duduknya, seketika mengambil sebuah katalog pameran tugas akhir calon anggota di suatu UKM Fotografi di Malang. Abah Boljug menunjukkan fotonya satu persatu sembari mengingat-ngingat komentar-komentar senior pada ajang presentasi tugas akhirnya (kita lebih familiar dengan kata ‘SIDANG’ hehe). Pada intinya komentar-komentar senior ini seringkali terlalu mengagung-agungkan rumus-rumus teknis yang seakan-akan sudah pakem tentang bagaimana sebuah foto bagus itu tercipta. Dengan ditambah bumbu-bumbu teriakan ala senior, komentar tersebut seakan-akan menjadi sebuah ultimatum yang tidak dapat dibantah. Alhasil calon anggotanya pun akan menjawab sebatas pertanyaan yang terjebak disitu-situ saja: membahas ‘kesempurnaan’ foto yang sesuai dengan teori-teori dari diktat-diktat yang ada.

Ia mendemonstrasikannya dengan foto seorang kiper yang sedang berdoa disamping gawang kemudian ada pemain lainnya di latar dalam keadaan blur. Senior bersabda “Itutuh diujung kanan banyak ‘sampah’ gitu, padahal kan objek utamanya kiper yang lagi doa. Kalo gini jadi terlalu banyak distraksi, baiknya lo ambil agak geser kiri biar lebih fokus sama kipernya.” dengan keadaan terdesak itu, si calon anggota yang ingin hal ini segera berakhir hanya dapat berkata, “Njeh mas, terima kasih.” (Bukan ucapan sebenarnya, dramatisasi agar dapat dipahami). Padahal Abah Boljug ingat bahwa foto itu sebenarnya cuplikan suasana adu penalti di pekan olahraga kampus tersebut. Justru dengan cerita seperti itu orang-orang blur di latar itu justru menambah kekayaan cerita dalam foto tersebut. Beliau sangat menyayangkan sikap seniornya tersebut. Pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan senior seakan terlalu berpikiran sempit dan tidak begitu bergizi. Padahal kalau senior mau mendengarkan calon anggotanya mempresentasikan lebih banyak, mereka bisa menggali karyanya lebih dalam lagi. Abah Boljug menyimpulkannya dengan satu kalimat, “Yo masa ngarep dapeti ‘Tuna’ tapi mancingnya cuman pake ‘Cacing’, yo minimal pake ‘Bandeng’ lah.”

Kemudian Abah Boljug menunjukkan satu foto tentang seorang anak yang sedang serius memerhatikan layar komputer didepannya, diambil dari tampak samping. “Kalo yang ini ketua angkatannya yang bikin, dia cerdik ngejawab seniornya.” kata Abah Boljug. Kali ini seniornya berkomentar bahwa ini fotonya kurang baik karena wajah si anak tidak terlihat dengan jelas padahal ini dimasukkan kedalam foto portrait, baiknya difoto dari balik layar komputer saja.

“Tapi kak kalau seperti itu justru saya tidak bisa mendapatkan mood ‘semangat’ yang menjadi tema pameran kami ini.” balas calon anggota, namun senior membalas lagi seakan tidak mau disalahkan,

“Oh gitu, tapi kan kalopun mau ambil kaya gitu harusnya masih bisa geser kiri dong biar lebih keliatan.”

“Sayangnya di kiri saya itu ada tembok mas, jadi gamungkin saya geser-geser lagi.” Namun, senior masih belum gentar berkomentar lebih,

“Oke, tapi saya mau nanya, kamu ini ngecrop fotonya apa engga? Jawab jujur aja.”

“Jujur saya ngecrop mas.” “Tapi saya ngecrop itu karena di ujung kanan ada layar komputer lain yang berwarna putih dan berpotensi menjadi distraksi dalam foto saya.”

Karena dirasa sudah tak bisa lagi ‘mencari-cari kesalahan’, akhirnya senior pun hening dan hanya berkomentar “Oke.”

Keadaan seperti ini sangat disayangkan oleh Abah Boljug. Padahal momen presentasi calon anggota seperti ini sebaiknya menjadi ajang untuk memperkaya calon anggota dengan masukan-masukan bermutu dan melatih kepekaan senior untuk mengapresiasi sebuah karya. Kenyataannya momen ini justru hanya dimanfaatkan senior untuk melampiaskan superioritasnya dan calon anggota hanya menganggap fase ini sebagai ‘Shirathal Mustaqim’ yang cukup dilewati saja agar dapat menjadi anggota.

Cerita-cerita tersebut langsung mengingatkan saya dengan keadaan pendidikan di LFM. Skema yang tidak jauh berbeda dengan kasus foto kiper dan foto komputer tadi tidak jarang kita temui pada sidang Tugas Akhir calon kru LFM. Terlebih lagi bentuk feodalisme di LFM tidak hanya sebatas komentar-komentar dengan bumbu amarah saja, tetapi bisa menjelma dalam bentuk lain. Salah satunya adalah ‘kesaktian’ penyidang untuk memberikan tanggapan yang terdengar judgemental padahal baru baca buku foto-nya sesaat sebelum memasuki ruangan sidang, atau menonton filmnya baru sebelum berangkat ke tempat sidang, adapula yang tidak menghadiri pameran/pemutaran samasekali, pun yang baru membaca skimming booklet kineklub yang sudah dipersiapkan oleh calon kru. Budaya feodal ini semakin terasa sedang menghancurkan kita perlahan-lahan: mengikis independensi calon kru dalam berkarya dan membentuk tirani-tirani kurang ajar, yaitu seorang kru yang berevolusi dengan titel ‘penyidang’.

Namun dibalik segala hal buruk itu, praktik sidang di LFM memiliki satu kelebihan, yaitu memberikan keluwesan penyidang untuk mengkritik. Sebaliknya terjadi pada diskusi karya dalam bentuk Artist’s Talk, kita sering menjumpai suasana ketika semua orang memberikan tanggapan positif, sehingga untuk mengungkapkan satu tanggapan negatif atau kritik berat rasanya karena seakan-akan mengkritik adalah hal tabu. Meskipun demikian, ternyata ada institusi yang telah mengantisipasi hal tersebut, yaitu Pannafoto. Menurut Abah Boljug, Pannafoto punya satu standar ketika membuat sebuah Artist’s Talk, yaitu mengundang minimal satu narasumber tentang isu yang dibahas oleh karyanya, seperti sosiolog, psikolog, ekonom, budayawan dan lain sebagainya. Hal ini untuk memastikan keberjalanan diskusi menyentuh kepada konteks dan tidak melulu soal pujian saja.

Mungkin dengan mengadopsi beberapa sistem diskusi karya dari luar, pendidikan di LFM dapat bergerak selangkah menjauhi feodalisme turunan ini. Namun, mau bagaimanapun sistem dipermainkan, kitalah yang menentukan apakah LFM akan selalu terjebak pada superioritas namanya namun kopong pada esensinya atau kita berani mengorbankan ketinggian hati kita untuk menjadi lebih terbuka dan menghargai sebuah karya tanpa terpengaruh embel-embel ‘karya cakru’ yang seringkali menjadi pembenaran untuk kita menghujat begitu mudahnya.

When photography is only photography it isn’t even photography.

David Campany

IMG_2610-01
Setiap difoto mata Abah Boljug selalu memutih, mungkin dia Bloodraven

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *