Mari Membaca #4: Identity Crisis oleh Brian Arnold

FullSizeRender_copy_207e0304-a561-4e84-9759-4736641a2eab.jpg

Sekitar tiga tahun yang lalu di Ruangan 9009 saat pertama kali terpapar dengan racun fotografi, saya diberikan beberapa referensi karya fotografi yang ada di internet yang dapat menjadi inspirasi. Beberapa laman internet yang dikenalkan adalah lensculture500px, dan National Geographic. Dari ketiga laman itu saya menemukan banyak sekali karya yang menarik, terutama laman lensculture karena memuat karya-karya terkurasi dari fotografi kontemporer di dunia yang hampir semuanya cukup menyegarkan dan mencerahkan. Namun, tiba-tiba muncul pertanyaan:

Kalau mau cari referensi karya fotografi kaya di lensculture asal Indonesia kemana ya?

Saya rasa buku Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese Photography karya Brian Arnold dapat menjawab pertanyaan saya tadi. Dalam buku ini Brian memuat hasil risetnya tentang fotografi kontemporer di tiga kota besar di Pulau Jawa, yaitu Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Selain itu Brian juga membahas fenomena munculnya fotografi pada era penjajahan. Bagian menarik dari buku ini adalah bagian ketika Brian mengulas sembari menampilkan beberapa karya fotografer dari tiga kota besar di Pulau Jawa itu. Meskipun masih banyak fotografer yang karyanya penting di Indonesia yang tidak Brian masukkan dalam bukunya, tetapi karya-karya yang dipilih oleh Brian dalam bukunya saya rasa cukup untuk memulai pencarian kita terhadap karya-karya lain yang sama-sama menyegarkan.

FullSizeRender-11_1c5ba741-e8bd-4809-a5f9-efaf484766c2_grande.jpg

Brian memulai pembahasan bukunya dengan kutipan dari R.A. Kartini tentang pencarian diri dan kemandirian. Kutipan yang kuat untuk memulai buku tentang sebuah refleksi terhadap identitas fotografi kontemporer di Indonesia. Kemudian ulasan pertama adalah terhadap karya fotografer di era penjajahan seperti Kassian Céphas dan Claire Holt. Brian menyebutkan bahwa fungsi fotografi mulai mengalami transisi dari sebuah objektifikasi dan pengkategorian target jajahan, menjadi sebuah alat dalam pencarian jati diri bangsa hingga puncaknya ketika fotografi menjadi alat penegasan kemandirian bangsa ketika Alex dan Frans Mendur memotret Soekarno yang sedang membacakan proklamasi pada tahun 1945.

Dalam pembahasan mengenai karya-karya fotografi kontemporer, Brian membagi kedalam tiga babak besar, yaitu fotografer Yogyakarta, Bandung, lalu Jakarta. Karya asal Yogyakarta yang dibahas hampir semua adalah pendiri Ruang Mes 56, sebuah kolektif seni rupa yang karyanya berbasis pada fotografi. Fotografer Mes 56 seringkali membawa pandangan menyentil terhadap fotografi dalam karya-karyanya, seperti yang dilakukan oleh Wimo Ambala Bayang dan Jim Allen Abel (Jimbo).

FullSizeRender-12_grande.jpg
Karya Jimbo bertajuk High Hopes

Pada pembahasan fotografer asal Bandung, Brian memulainya dengan membahas karya-karya dari akademisi seperti Deden Hendan Durahman dan Henrycus Napit Sunargo yang merupakan dosen di Institut Teknologi Bandung. Brian juga menambahkan Arum Tresnaningtyas Dayuputri (Aumdayu) dalam pembahasan fotografer asal Bandungnya. Khusus pada kolom mbak Arum, buku ini tidak hanya membahas karya fotografinya saja, tetapi juga membahas kontribusinya dalam memasyarakatkan fotografi di Bandung melalui kelas yang diampunya, yaitu Kelas Kami Punya Cerita.

Pembahasan terakhir pada buku ini adalah bagian fotografer asal Jakarta. Kali ini Brian hanya membahas dua fotografer, yaitu Tino Djumini dan Amran Malik Halim. Brian membahas karya Tino yang berjudul Kerabat (Relative), sebuah potret sederhana sebuah keluarga dengan latar kediamannya masing-masing. Sedangkan karya Amran yang dibahas adalah karya potret wajah penyandang autisme. Menurut Brian kedua karya ini penting karena Tino berhasil menampilkan berbagai jenis bentuk keluarga beserta kerabat-kerabatnya di Indonesia sedangkan Amran berhasil menangkap wajah seorang penyandang autisme tanpa harus terlalu mengeksploitasi sifat autisme itu sendiri.

Brian-1.jpg
Autism karya Amran Malik Hakim

Brian Arnold memang tidak menampilkan semua fotografer kontemporer yang ada di Pulau Jawa, apalagi Indonesia, tetapi memang bukan itu tujuan Brian dalam buku ini. Menurut saya buku ini cukup penting bagi fotografer-fotografer profesional maupun amatir yang sedang mencari tahu bagaimana fotografi telah berubah fungsi dari alat penjajahan menjadi sebuah alat yang memerdekakan dan membantu kita dalam mencari jati diri bangsa kita sendiri.

Saya sangat menyarankan kalian untuk sempat membaca tulisan menarik dan karya-karya foto inspiratif dalam buku ini. Kalau kalian punya rejeki lebih, bisa langsung dibeli di laman Afterhours Book. Kalau ingin sedikit menghemat, kalian bisa menghampiri Perpustakaan Fotografi Keliling dan The Goodlife sambil menikmati koleksi bukufoto lainnya.

Brian-2.jpg
Brian Arnold pada kuliah umum di FISS UNPAS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *