Another Trip to the Mars #1: Belajar VFX dengan Man Doksos angkatan 2002

8 April 2017

Sore itu Saya bersama ka Fasya, ka Sobby, ka Farraz, dan Djati menghadiri workshop kecil-kecilan dari S/VFX dan SUTU Animation di Kedai CAS, Bandung. Dengan pembicara utama ka Jana (M. J. Bindiar) dan ka Erickson Siregar (yang ternyata adalah KRU LFM 2002!).

Workshop kali ini cukup memakan korban, yang pertama adalah betis yang terkena knalpot, dan teman-teman yang mendadak tidak bisa ikut karena kurangnya seat. Mungkin memang karena kita terlalu terlena dengan waktu sehingga hanya kami berempat yang sempat mendaftar (ka Farraz terlihat sukses dengan penyusupannya). Dengan materi utama tentang visual effect, workshop ini dibuka dengan perkenalan kita dengan visual effect yang berkembang dari tahun 1902 (A Trip to The Moon: George Melies) hingga film-film blockbuster terkenal seperti sekarang.

Materi pun berlanjut ke perihal-perihal teknis, rupanya untuk menciptakan suatu film dengan visual effect, rupanya diperlukan pengonsepan yang matang dari praproduksi, produksi hingga pascaproduksi agar tidak keos dalam pelaksanannya. S/VFX membuat reel proses editing VFX dan dapat dilihat disini.

 

Praproduksi

Proses praproduksi memerlukan pengonsepan yang matang. Khusus untuk film dengan bantuan VFX, diperlukan storyboard (yang sebaiknya) dalam bentuk video agar baik director dan animator saling mengerti. Sehingga penting bagi animator untuk ikut memberi masukan pada director sejak praproduksi. Untuk VFX storyboard, dapat berupa Preface maupun Animated Storyboard.

Preface merupakan visualisasi scene dengan storyboard. Waktu workshop ditampilkan cuplikan video dari Deadpool (2016) yang sudah matang sehingga kami kebingungan apakah video Deadpool tersebut merupakan preface atau bukan. Contoh preface mungkin dapat dilihat disini.

Sementara animated storyboard merupakan moving pictures yang dibuat dari beberapa bagian storyboard. Animated storyboard masih berbentuk sketch dari scene yang akan dipoles dengan VFX. Contohnya dapat dilihat disini: Antman.

Kematangan konsep baik dari director maupun animator sangat diperlukan pada saat praproduksi. Proses praproduksi yang kurang matang akan menghasilkan ke-keos-an murni pada saat pascaproduksi.

 

Produksi

Pada proses produksi, konsep dari proses praproduksi dipakai dengan masukan dari animator. Produksi sendiri pada pembuatan film VFX dapat menggunakan beberapa teknik yang seharusnya saya catat, tetapi skip sehingga hanya mencatat 2 dari 4 hal (karena ka Jana juga menjelaskan dengan cepat) yaitu Texturing dan Motion Capture. Texturing dalam pengerjaannya yaitu me-record tekstur dari bahan yang akan diberi VFX pada pengeditannya. Bahan yang diedit dapat berupa karpet, baju, bahkan kulit manusia. Sementara Motion Capture menggunakan point-point yang dipasangkan pada baju khusus yang sedang direkam, dapat menggunakan green screen ataupun tidak, disesuaikan dengan butuh atau tidaknya untuk mengedit lingkungan. Karena dua teknik lainnya tidak tercatat, saya yakin dua hal lainnya yang tidak tercatat adalah tidak penting 🙂

 

Pascaproduksi

Disinilah dimana animator dan editor bekerja keras memenuhi deadline rilis film. Kebanyakan dari animator akan mengalami kesulitan dalam mengedit jika pada proses praproduksi dan produksi tidak menggunakan teknik-teknik yang harusnya dipakai. Teknik-teknik pada proses editing pascaproduksi cukup banyak dan variatif, berikut merupakan teknik editing pada proses pascaproduksi:

  1. Coloring : Mulai dari sini, editor mengubah objek edit dengan warna hingga shading agar terlihat natural.
  2. Modelling : Merupakan turunan dari proses praproduksi. Terdiri dari dua jenis, yaitu low poly (gambaran utama/gambaran dasar) dan high poly (gambaran detail).
  3. Rigging : Memberikan kerangka pada model agar dapat digerakkan sesuai dengan adegan pada scene.
  4. Animating : Membuat animasi bergerak dengan membuat key pose yang terkait dengan aksi yang ingin dilakukan. Satu adegan menonjok membutuhkan 20-36 key pose.
  5. Texturing : Memberikan detail tekstur pada objek.
  6. Lighting : Memberikan detail lighting pada objek. Menyesuaikan pencahayaan latar dan memberikan bayangan pada objek.
  7. Effect particle : Menggambarkan gerakan pada partikel khusus, seperti cairan, api, dan angin.
  8. Rendering : Turunan dari Effect Particle, menggambarkan lebih detail dan realis dari gerakan partikel yang diedit.
  9. Rotoscoping : Menghilangkan bagian fokus objek, sehingga hanya terlihat outline dari gambar. Outline tersebut dapat digerakkan sebagai animasi.  
  10. Matte painting : Pembuatan background indah yang mungkin mahal untuk direalisasikan secara artistik, sehingga menggunakan metode VFX.
  11. Compositing : Realisasi dari hasil green screen, secara umum menggabungkan karakter dan latar.

Lebih lengkapnya: THE 8 STEPS OF VISUAL EFFECTS: VFX Made Easy

Sesi QnA

Q: Bedanya Special Effect sama Visual Effect itu apa?

A: Special effect menggunakan art atau artifisial sebagai medianya, seperti semburan api dari panggung, latar dari lukisan, hingga luka pada tangan. Sementara visual effect murni menggunakan komputer untuk efek visual yang diinginkan (benar-benar mengedit latar dan luka).

Q: Kalau terlanjur tidak memakai green screen, apakah dapat memakai teknik seperti biasa?

A: Tidak bisa, harus manual menggunakan rotoscoping per bagian atau matte painting secara manual.

Q: Contoh referensi Visual Effect yang keren dapat dilihat dimana?

A: Coba cek instagramnya Zach King, video dia keren-keren, kebanyakan menggunakan visual effect.

Seusai acara, ka Erickson menghampiri kita dan menceritakan bahwa dahulu dia adalah Kru LFM. Ka Erickson menyatakan bahwa dirinya adalah anomali, karena kebanyakan anak LFM setelah lulus akan kembali ke bidang tekniknya masing-masing, tidak melanjutkan minatnya untuk berkecimpung di dunia fotografi dan perfilman. Doi bercerita tentang LFM yang tidak berubah dari masa ke masa, mulai dari proses pendidikannya, LFM yang masih memiliki ruangan terbanyak (5 ruangan), dan wisuda-wisuda yang menyibukkan. Ka Erickson juga berencana untuk membuat kelas VFX kecil-kecilan untuk Kru LFM jika sempat nanti (AMIN!).

Dan ternyata gais, ka Erickson adalah manajer dokumentasi sosial (setelah ka Farraz kepo-kepo) angkatan 2002! Eksploratif juga ya dari doksos hingga berkecimpung ke Visual Effects. Semoga ka Erickson sempat berkunjung ke LFM dan membawa pengalaman-pengalaman baru untuk kita 🙂

Akbar Ghifari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *