Another Trip To The Mars 2 : Catatan Kunjungan ke Rumah Kedua

Damar Bagaskoro

Ada hal yang menarik untuk dicermati dari perubahan nama LFM-MM ke LFM-MV. Empunya proker, Kabid Videografi, seolah ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa Videografi tidak melulu soal film pendek! Hal ini tercermin dari salah satu parameter ketercapaian program kerjanya. Terdapat jenis karya videografi non-film pendek yang ia masukkan ke dalam parameternya. Salah satunya adalah music video. Sebagai director of the year dan tentu saja kru of the year (sa ae brur), saya merasa tertarik dengan hal yang satu ini. Dan, kalo boleh pinjem istiliah yang dipake Hadi pas syukwis, seolah semesta mendukung! Tidak lama setelah muker, ada workshop soal music video.Akhinya, tanggal 28 April 2017, saya dan beberapa kru lainnya iseng-iseng (boong deng) mampir ke Rumah Kedua, tempat event tersebut dilangsungkan.

How to Make a Good Music Video?

How to Make Music Video merupakan workshop pertama dari rangkaian workshop yang ada di acara ini. Mas Ace Raden (yang ngedit Naked-nya Mondo Gascaro loh guys!) berlaku sebagai pemateri. Pada dasarnya, memproduksi sebuah music video tidak memiliki perbedaan yang signifikan, baik alur kerja maupun teknis pembuatan, dengan memproduksi sebuah film (Atau karya videografi pada umumnya). Memproduksi music video pun, menurut Mas Ace, memerlukan “perintilan-perintilan” yang ia sebut sebagai Itinerary seperti script, storyboard, shotlist, dan kawan-kawannya (Gaakan saya jelasin untuk yang ini, mbikoz saya yakin kru LFM dah “kenyang” sama hal-hal ini, termasuk bagian dimana menurut Mas Ace, kadang kita perlu untuk bilang F*ck Itinerary, ayo langsung bikin!” bhak). Namun ada hal-hal yang harus diperhatikan saat proses concepting. Yang paling utama adalah sebuah lagu punya lirik! (ada yang ga sih hehe). Lirik merupakan salah satu elemen penting bagi sang musisi untuk menyampaikan pesan yang ingin ia/mereka utarakan lewat musiknya. Untuk itu, Mas Ace menekankan pentingnya (wajib sebenarnya) bagi sang videographer untuk membedah atau mendalami lirik lagu tersebut agar tercipta sebuah interpretasi dari lagu tersebut. Interpretasi inilah yang dapat digunakan untuk merumuskan konsep video nantinya. Intinya, tidak perlu masing-masing lirik kita visualkan di video (kalo ada lirik yang dirasa penting, boleh lah), tapi cukup vibes-nya saja yang kita visualkan. Selain itu, menurut Mas Ace, masih ada beberapa aspek yang harus diperhatikan agar dapat terciptanya music video yang baik, diantaranya

  1. Visually Atractive
  2. Suitable Tempo
  3. Artistique
  4. Storytelling

Segala hal diatas dirasa dapat menunjang hal terpenting dari sebuah music video : RASA. Mas Ace pun mengklasifikasikan music video manjadi beberapa jenis, diantaranya

  1. Live Performance

Contoh : Moreland & Arbuckle – Tall Boogie

2. Fiction

Contoh : Kayanya hampir semua MV yang beredar adalah fiksi wk

    3. Non-Fiction

Contoh : Lupa judul yang dikasih sama Mas Ace hehe map

    4. Montage

Contoh : Mondo Gascaro – Naked

   5. Animation

Contoh : Mika – Lollipop, Gotye – Easy Way Out (ini juga masuk animasi lho kata Mas Ace)

Selain workshop How to Make Music Video tadi, sebenarnya ada dua workshop (Atau setidaknya mata acara yang berpotensi memberikan ilmu) lainnya, yaitu Behind The Scene : MJBU dan Bedah lirik MJBU (Ya. MJBU adalah judul lagu gais). Sayangnya kedua acara ini tidak memberikan terlalu banyak ilmu, karena mereka menjelaskan hal-hal yang terlalu dasar. Contohnya, saat sesi BTS : MJBU, director-nya lebih banyak cerita soal latar belakang pengerjaan video namun lebih bersifat nostalgia dengan sang musisi ketimbang hal-hal konseptual videonya (ya gasalah sih, emang tujuan mata acaranya itu). Padahal yang saya harapkan dari sebuah sesi Behind The Scene adalah cerita soal pembedahan konsep hingga permasalahan teknis yang dihadapi saat proses produksi. Di acara Bedah Lirik : MJBU pun tidak jauh beda. Sang pembuat lagu lebih banyak bercerita soal “kenapa lagu ini dibuat” daripada membedah isi liriknya secara dalam (atau ada ya? soalnya saya pergi di tengah sesi ini HEHE). Padahal, pembedahan lirik itulah yang saya tunggu-tunggu, mengingat hal ini sangat esensial untuk pembuatan sebuah music video.

Gimana keberlangsungan event-nya?

atm petik production 2.png

Selain materi pendidikannya, rasanya saya perlu sedikit membahas keberjalanan acaranya ini. Selain agar terlihat suportif ke Kabid Pertunjukan BHAK, keberjalanan acara ini (nyatanya) dapat mempengaruhi mood orang dalam belajar, apalagi LFM datang ke acara ini dengan embel-embel pendidikan eksternal. Pada umumnya, acara ini merupakan rangkaian acara yang memiliki empat mata acara dengan screening music video MJBU sebagai puncaknya dan tiga acara lainnya adalah workshop (Setidaknya itulah yang saya tangkap di poster). Rupanya, penerawangan saya terhadap acara ini salah huehue. Acara ini lebih kental sisi musiknya (bahkan ternyata, puncak acaranya adalah penampilan dari Bandung Inikami Orkeska) ketimbang sisi videonya, which means, orang-orang yang datang ke event ini pun, mostly berasal dari komunitas musik ketimbang komunitas videografi (terlihat dari cukup akrabnya Jarek, Kru 13, dengan beberapa orang disana. Saya jadikan hal tersebut menjadi parameter bahwa disini banyak orang dari komunitas musik #judgementalAF. Bahkan saya melihat Dhira Bongs disana!). Sayangnya, hal ini berpengaruh kepada keberjalanan workshop-nya. Suasana saat workshop pertama, How to Make Music Video, sungguh tidak kondusif. Audience seolah tidak peduli dengan adanya workshop ini. Ya wajar saja, mungkin mereka datang untuk menikmati musik, berbeda dengan kami yang memang ingin mencari wawasan soal music video. Kami (atau hanya saya) seolah tersesat diantara komunitas musik. Mungkin untuk kedepannya, ada baiknya, tim pendidikan melakukan riset kecil-kecilan dulu soal stance event-nya agar ketersesatan ini tidak terulang lagi (Atau memang ketersesatan ini adalah hal yang disengaja oleh Farraz?). Ada satu hal lagi yang menarik untuk dibahas. Soal keberjalanan workshop. Saya tidak yakin dapat menyebut acara ini sebagai workshop. Lebih terasa seperti kelas! Atau bahkan hanya pemaparan materi! Bahkan sesi tanya-jawab pun tidak ada. Buruk sekali untuk sebuah mata acara yang dilabeli workshop, yang mana membuat kita (pengunjung) tidak bisa menggali ilmu lebih dari pemateri. Materi yang disampaikan pun tidak terlalu memuaskan buat saya. Cenderung teoretis pada workshop pertama (which is sudah sangat sering di LFM) dan cenderung terlalu umum di workshop kedua dan ketiga. Sedikit sekali (hampir tidak ada) masalah teknis yang terbahas di workshopworkshop ini.  Namun, ada hal baik yang saya tangkap dan saya sukai dari event ini. Event ini terasa begitu intim. Baik hubungan antara performer ke audience maupun audience ke audience terasa begitu dekat! Mungkin ini bisa dipelajari atau bahkan ditiru oleh GEP maupun GFF kedepannya.

Mungkin sekian tulisan (curhatan btw) saya tentang Another Trip to The Mars #2 ini. Tak lupa, ada satu pesan yang ingin saya sampaikan : percayalah, setersesat-tersesatnya kita dalam perjalanan menuju ke Mars, pasti ada pelajaran yang kita dapat. So, jangan takut untuk ikut ATM-ATM berikutnya ya!

*Bonus foto kru yang ikut ke Rumah Kedua (ada krutu juga gais!)

S__31416323.jpg

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *