Bioskop Kampus: Kurasi Jaman – Seleksi Waktu dan Teknologi

Catatan Pemrograman

Mengarungi kilatnya arus teknologi, kita terkadang merasa sukar untuk turut mengikuti. Sejatinya apakah kita sudah sejak lampau mengekor pada bayang ‘kemajuan’ ini? Tanpa sadar, kini segenap insan telah bergantung penuh padanya. Bukankah segala yang berlimpah kemudian akan menyesakkan?

Dimulai dari Dino yang mendatangkan komputer hingga animasi Djakarta 00 yang mengekspos prediksinya atas masa depan suatu kota, Bioskop Kampus ‘Kurasi Jaman’ hadir menyajikan linimasa lahirnya teknologi hingga batas mampunya. Keenam film terpilih diharapkan dapat mengajak penonton berkaca kembali atas definisi senyatanya dari teknologi serta dampaknya pada diri.

 

Catatan Pemutaran

Bioskop Kampus Kurasi Jaman dilaksanakan pada hari Jumat, 4 Oktober 2019. Bioskop Kampus kali ini bekerja sama dengan acara ITB Insight dari HMFT ITB yang mengangkat tema sustainable technology yang mudah diterima oleh masyarakat. Dari tema ini, diangkatlah tema pemutaran yaitu ‘Manusia dan Kota’ yang membahas mengenai isu teknologi yang semakin lama semakin dekat dengan kita terutama pada peradaban perkotaan. Dimana seluruh aspek kehidupan semakin lama semakin erat oleh teknologi, hingga mungkin saja tidak dapat kita pisahkan lagi.

Isu tersebut dikemas menjadi enam film pendek yang diputarkan. Dimulai dengan film Dino dan Laki-Laki Virtual pada sesi pertama pemutaran. Lalu dilanjutkan dengan film Oldies Buddies, Beta_test, Lazy susan, dan Djakarta 00 pada sesi kedua pemutaran. Keenam film ini diputarkan secara berurutan mengikuti linimasa waktu perubahan teknologi. Mulai pada film pertama ‘Dino’ (2013) menceritakan masa transisi teknologi yang mulai masuk kedalam kehidupan kita hingga film ‘Djakarta 00’ (2013) yang mengekspos masa depan yang mungkin terjadi pada suatu perkotaan, melalui program ini penonton diberikan pandangan mengenai dampak teknologi pada kehidupan kita. Apakah sesuatu yang bertujuan untuk memudahkan akhirnya dapat menjadi ancaman? Nama ‘Kurasi Jaman’ sendiri muncul dari pandangan tersebut. Dengan teknologi yang semakin berkembang dan masuk kedalam kehidupan, adaptasi adalah hal yang perlu untuk dilakukan agar kita tidak ‘terkurasi’ oleh zaman.

Pada konsep pemutarannya sendiri, dilakukan bentuk pensuasanaan menggunakan wahana-wahana teknologi dari ITB Insight, berupa hologram tiga dimensi, lorong LED, cloudlight dan lainnya. Dengan mengombinasikan pemutaran dengan wahana tersebut, dibuat alur pemutaran seakan-akan penonton masuk kedalam mesin waktu yang ‘belum sempurna’. Hal ini didukung dengan panitia yang menggunakan pensuasanaan seperti ilmuwan mesin waktu, kemudian setelah registrasi penonton akan memasuki lorong LED yang berfungsi sebagai ‘mesin waktu’. Namun saat memasuki ruangan pemutaran, penonton akan melihat suasana ruangan 9009 yang kuno namun beserta dengan alat-alat teknologi seperti hologram tiga dimensi yang mengindikasikan perjalanan menggunakan mesin waktu tidak berjalan dengan sempurna. Pada layar pemutaran pun ditunjukkan pemandangan kota modern yang kembali lagi ke perkotaan masa lampau secara berulang-ulang.

Setelah pemutaran berakhir, dilakukan sesi diskusi bersama Thoriq Fauzan A. dari LFM ITB dan Elvina Faustina D. dari ITB Insight. Mereka merupakan penggiat film yang sama-sama mendalami teknologi lewat keilmuan mereka, yaitu Teknik Fisika. Pada diskusi, dilakukan pembahasan mengenai isu teknologi yang sudah semakin erat dengan kehidupan terutama pada peradaban perkotaan dan hubungannya dengan film secara umum. Dimana film menjadi salah satu media yang turut berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *