BK from Home : Language of Love

How do you receive love?  Terkadang mungkin kita kesulitan untuk saling memahami orang yang kita sayang karena setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam cinta. Lalu bagaimana kita bisa memahami seseorang jika setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing dalam menginterpretasikan dan mengekspresikan cinta?

Pada tanggal 20 Februari di malam minggu tepatnya 6 hari setelah hari valentine yang lalu, telah diadakan pemutaran Bioskop Kampus yang memiliki tema “Language of LOVE”. Seperti namanya, tema pemutaran kali ini diambil dari 5 love language yang merupakan konsepsi bahasa cinta berasal dari buku karya penulis populer asal Amerika,  Gary Chapman. Cinta, sebagai emosi yang dekat dan lekat dengan manusia tentu memberi warna tersendiri dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa cinta atau love language takkan pernah terbatas: bisa dengan sesederhana menawarkan kepedulian, memberi hadiah, membagi sentuhan, menikmati waktu bersama, atau hanya dengan sebatas kata kata bermakna.

Telah ditayangkan 5 buah film yang diambil dari ke 5 language of love, setiap film merepresentasikan setiap bahasa cinta yang ada. Film pertama yaitu “Kami Sedang Memadu Kasih, Selamanya” karya Andri Firmansyah melambangkan Quality Time, Selanjutnya  “Beralih” karya Raihan Pratama melambangkan Receiving Gifts, Lalu ada “Ngabuburit” karya Candra Aditya dengan Words of Affirmation, “Barakabut” karya  Roufy Nasution untuk Physical Touch, dan Film terakhir yaitu “I Wish Could Kiss You One Last Time” karya Yusuf Jacka melambangkan Acts of Services. Ke lima film ini ditayangkan mulai pukul 19.30 hingga 20.40 WIB. 

Sayangnya sih berdasarkan kondisi pandemi yang masih berlangsung sekarang, Bioskop Kampus kali ini masih dilaksanakan secara online. Namun, seperti biasa agar kesan nonton bareng tetap terasa, penayangan kali ini dilakukan melalui platform youtube streaming seperti ketiga Bioskop Kampus sebelumnya. Pada pemutaran film ke-3 sempat terjadi kendala yang menyebabkan pemutaran dihentikan sejenak. Akibatnya setelah pemutaran dapat dilanjut kembali, film ke-4 langsung diputar untuk menghindari permasalahan teknis sebelumnya berulang kembali.

Sesi diskusi dilakukan setelah pemutaran film terakhir menggunakan platform zoom dan youtube streaming. Diskusi ini didatangi oleh sutradara dari film ke-5. Film yang disutradarai oleh Yusuf Jacka ini sebagian besar diambil dari kesedihan orang orang yang ditinggal pergi oleh yang dicinta tanpa dapat bertemu terakhir kalinya, yang berhubungan dekat dengan situasi  covid yang sekarang ini masih terjadi di Indonesia.  Meskipun BK kali ini masih dilaksanakan secara online sehingga tidak dapat membayar kerinduan terhadap menonton secara offline, namun BK from Home: Language of Love kali ini sudah cukup ramai, dengan pemesanan tiket mencapai 191 orang. Keberjalanan acara pun cukup lancar, terlepas adanya kendala dalam film ke 3. Pada sesi diskusi sineas dan para penonton cukup antusias untuk melakukan tanya jawab mengenai pemutaran yang telah dilaksanakan. Terdapat banyak bahasan mengenai tema yang digunakan kali ini. Maka dari itu, semoga dengan adanya pemutaran kali ini BK berhasil menyampaikan ke-5 bahasa cinta agar orang-orang lebih mudah mengerti satu sama lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *