Festique Bosque: Mantap Bosque!

Tahun ini merupakan tahun ketiga diadakannya Festcil, sebuah festival film di Surabaya yang diinisiasi oleh kawan-kawan yang berkecimpung dalam lingkaran perfilman. Setelah menjajak tema Taman Belakang pada tahun 2017, tahun ini Festcil mengangkat tema Vitalitas. Nah, salah satu cara penyuasanaan Festcil kepada public ini, setidaknya menurut pembacaan saya, adalah dengan mengadakan kelas kritik film bernama Festique Bosque.

Beruntung, saya adalah salah satu dari lima peserta yang terpilih untuk mengikuti kelas ini. Empat orang lainnya adalah kawan-kawan dari komunitas film dan mahasiswa jurusan ilmu komunikasi dengan perbandingan 3 orang perempuan dan 2 orang laki-laki termasuk saya. Kelas Festique ini diadakan pada tanggal 18 dan 19 Agustus 2018. Festcil, pihak penyelenggaran kelas ini, bekerjasama dengan C2O Library & Collective sebuah ruang baca di Surabaya.

Pada hari pertama, pemberian materi dimulai pada pukul sepuluh hingga pukul enam sore. Selain pemberian materi kami juga disuguhi makanan ringan dan diizinkan untuk beristirahat sejenak setiap habis satu topik. Adapula topik yang dibahas pada hari pertama adalah sejarah film, ekosistem perfilman, lalu diikuti dengan dasar-dasar apresiasi film. Pemberi materi pada kelas Festique Bosque! ini adalah Ayu Diah Cempaka dan Indra Pratama dari komunitas Mini Kino Bali. 

Awalnya, saya kira materi pada hari pertama akan sangat melelahkan, tetapi Ayu dan Indra mampu menyampaikan seluruh materi dengan jelas sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan ruang bertanya karena kebingungan. Penyampaian materi oleh Ayu dan Indra saya rasa juga sangat baik dan tidak terkesan memaksakan materi untuk “masuk” secara langsung ke dalam pikiran peserta Festique Bosque!

Screen Shot 2018-11-07 at 20.37.07

Gambar 1. Suasana Pemaparan Materi Lokakarya Hari Pertama  (Sumber: Instagram Festcil)

Konten. Konsep. Konteks.

Sebuah bahasan yang tak lekang ketika membahas bagaimana cara mengulas sebuah film. Akan tetapi bahasan ini rasanya jadi menarik karena Ayu dan Indra memberikan kakas lain untuk mengulas film. Konten, konsep, konteks merupakan kakas untuk membedah film. Konten berarti segala sesuatu yang bisa dilihat dan didengar ketika menonton sebuah film. Konsep merupakan narasi, atau ide, atau sifat yang dihadirkan pada film yang seringkali dibuktikan oleh konten-konten yang tersedia dalam film, sedangkan konteks merupakan nilai-nilai dari masyarakat atau nilai-nilai di luar film yang bisa dibaca melalui susunan konten pun konsep yang kita baca dari sebuah film.

Hal baru bagi saya adalah bagaimana pembacaan seorang yang mengkritik film harus didasarkan pada “arah” film menurut sutradara. Film memang merupakan ruang interpretasi bagi penonton. Akan tetapi, dalam mengatur tiap elemen visual dan audio yang dihadirkan dalam film, sutradara bisa jadi memiliki tujuan dan maksud tertentu. Fungsi pembacaan terhadap film jadi penting ketika membahas hal ini. Secara semiotik, kritikus film harus mampu membedah tiap tanda sehingga menjadi narasi pemaknaan yang baru bagi khalayak. Hal ini mengingatkan saya pada kalimat yang diutarakan oleh Adrian Jonathan Pasaribu ketika lokakarya kuratorial yang dilaksanakan pada acara Temu Komunitas Film Indonesia 2018 bahwa film yang baik adalah film yang menyediakan cukup ruang interpretasi bagi penonton namun tetap memberikan sudut pandang dan keberpihakan yang cukup tegas melalui susunan elemen audio-visual yang ada dalam film.

Selepas pemberian materi, peserta mengikuti acara pemutaran yang diadakan oleh Festcil di C2O Library & Collective. Dalam pemutaran ini, diputarkan lima film pendek yaitu Sepanjang Jalan Satu Arah, Bunga dan Tembok, Bubar Jalan, Sedeng Sang, dan #AkuSerius. Masing-masing peserta memilih satu film untuk diulas dan akan dibahas pada pertemuan hari kedua. Kami diberikan waktu satu malam untuk mengerjakan ulasan film yang diputar pada acara pemutaran. Pengalaman ini sangat menarik bagi saya karena memberikan saya kesempatan untuk mengeksplorasi bahasan-bahasan materi yang diberi pada siang hari dan langsung mengimplementasikan materi yang saya dapat dalam bentuk tulisan.

Screen Shot 2018-11-07 at 20.35.36

Gambar 2. Suasana Pemutaran di C2O Collective & Library (Sumber: Instagram Festcil)

Pada hari ke dua, selama satu hari kami membahas tulisan yang telah kami buat. Kegiatan ini sangat menarik karena saya bisa mendapatkan masukan terkait cara menulis dan mempertahankan argumen tidak hanya dari tulisan saya, tetapi juga dari tulisan kawan-kawan peserta lokakarya lainnya. Hal yang sangat saya ingat dari pembahasan seluruh tulisan adalah penggunaan kata sifat dalam menggambarkan sebuah film. Bahwa seringkali kesalahan dalam menarasikan pembacaan terhadap film adalah menggeneralisasi film tersebut menggunakan kata sifat yang disematkan oleh penulis ulasan/kritik film.

Secara keseluruhan, rangkaian acara Festique Bosque! menjadi kegiatan yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Saya berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang hebat dan menjadi bagian (atau setidaknya saya merasa menjadi bagian) dari lingkungan kekaryaan kritik film yang mampu mendorong saya untuk meningkatkan kapasitas saya dalam menulis. Bagi saya pengalaman ini perlu dirasakan oleh kawan sekalian yang butuh mengisi bagasi pengetahuan dan bagasi motivasi untuk menulis. Bahwa sesungguhnya selalu ada hal untuk dibenahi dan selalu ada cara untuk membenahi. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah diri bersedia melangkah untuk mengambil suguhan cara-cara dari semesta untuk meningkatkan kapasitas diri sendiri? ☺

Screen Shot 2018-11-07 at 20.37.25

Gambar 3. Kawan-kawan Festique Bosque! (Sumber: Dokumentasi Festcil)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *