Grim Mirage

Topik mengenai gangguan jiwa yang mempengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderita, dianggap sangat relevan dengan kondisi masa kini yang berkaitan erat dengan adanya pandemi COVID-19. Tidak asing rasanya apabila mendengar selama pandemi, pembahasan mengenai depresi, kegelisahan, stress, ataupun gangguan mental lainnya semakin meningkat yang merupakan salah satu efek samping yang bermunculan akan adanya pandemi ini yang memaksa orang-orang untuk melakukan karantina pada waktu yang cukup lama. Dampak-dampak negatif tersebut kemudian tidak hanya terkait pada raga saja, dapat juga berubah menjadi bentuk yang lainnya, yaitu gangguan pada jiwa.

Grim Mirage merupakan judul dari ekshibisi online yang disusun oleh salah satu kru Liga Film Mahasiswa ITB angkatan 2019,  Nadhira Kandio. Topik besar yang dibawakan dari pameran ini adalah terkait dengan gangguan jiwa berupa Body Dysmorphic Disorder atau disingkat sebagai BDD. Body Dysmorphic Disorder merupakan gangguan mental yang menyebabkan distorsi persepsi akan tubuh dari penderitanya, seakan bahwa sang penderita memiliki kekurangan, kecacatan, ataupun ketidaksempurnaan yang signifikan pada bagian tubuhnya. Dalam realitanya, belum banyak orang mengetahui adanya permasalahan BDD ini ataupun juga menganggap bahwa BDD merupakan salah satu gangguan mental yang perlu disembuhkan. Oleh karena itu, harapan dari penyusun pameran ini adalah agar para pengunjung dapat mengenal, atau setidaknya dapat mengetahui terkait BDD, sehingga dapat memiliki rasa empati lewat bungkusan karya-karya yang ditampilkan. 

Pameran ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3 hari, yakni dibuka dari tanggal 3 Desember 2020 hingga 6 Desember 2020. Metode pameran dilaksanakan secara online melalui website  beralamatkan https://www.grim-mirage.xyz/. Alur dari pameran sengaja dibuat secara linear, sehingga pengunjung cukup melakukan scrolling pada laman pameran.  Alur pameran yang simpel tanpa adanya fitur yang interaktif, membuat adanya elemen pameran yang banyak,seperti  GIFs, lagu, foto serta grafis yang dianimasikan.

Pembuat pameran mencoba membungkus perasaan yang orang-orang dengan BDD rasakan melalui puisi, fotografi dan grafis. Grafis terkomposisi dengan warna yang mencolok untuk meringankan suasana. Puisi digunakan sebagai narasi. Puisi adalah karya pertama yang diselesaikan, kemudian, grafis dan foto mulai direncanakan. Karya yang dipamerkan pada eksibisi ini mencakup 11 karya dengan keterangan bahwa semuanya adalah murni milik penyusun eksibisi, Nadhira Kandiro. Berikut merupakan daftar karya yang dipamerkan :

  • Lost in myself (2020) [Fotografi]
  • Struggles oleh (2020) [Fotografi]
  • Bigger than it is (2020) [Fotografi]
  • Phobia: mirrors? (2020) [Fotografi]
  • Imprisoned by our demons (2020) [Fotografi]
  • Inside a Wreck (2020) [Grafis]
  • Messy (2020) [Grafis]
  • Frustration (2020) [Grafis]
  • Figuring things out (2020) [Grafis]
  • Walking chaos (2020) [Grafis]
  • Dazed (2020) [Grafis]

Secara keseluruhan, eksibisi Grim Mirage milik Nadhira Kandio yang mengangkat topik BDD, telah dikemas secara lugas dalam memberikan experience kepada pengunjung.  Terlebih lagi,  diharapkan eksibisi ini dapat memberikan perhatian terkait fenomena BDD yang belum sering terdengar kepada pengunjung lewat emosi yang dituangkan dalam karya-karya yang telah dipamerkan dalam eksibisi ini.

Ditulis oleh Dyah Reyhaniadiva (Kru 2018)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *