Majelis Fotografi LFM ITB : Semakin Kritis Berfotografi Bersama Ben Laksana & Rara Sekar

Dewasa ini, fotografi telah menjadi konsumsi sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Hal ini dikarenakan mudahnya akses manusia dalam peradaban ini kepada kamera; membuat semua orang menjadi fotografer, tak peduli amatir ataupun professional. Dan dalam dunia yang terkadang manusianya lebih ramai di dunia maya, foto telah menjadi sebuah kebutuhan primer untuk manusianya. Hal ini membentuk masyarakat yang terikat secara visual dalam mempersepsikan sebuah informasi.

Dalam menerima sebuah informasi dalam medium visual, informasi tersebut kadang bukan lagi perihal keabsahannya pun keobjektifannya. Kita menerima fotografi sebagai sebuah visual yang tak lagi kita pertanyakan kesubjektifannya. Tanpa sadar, kita sebagai masyarakat era digital telah menjadi budak foto. Kita sebagai konsumen foto telah menjadi budak rekonstruksi realita; satu-satunya kegiatan yang mahir dilakukan oleh fotografi itu sendiri.

Berangkat dari pernyataan bahwa kita semua adalah fotografer, tanpa sadar, kita telah menjadi budak dari fotografi itu sendiri. Foto sebagai sebuah medium memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan informasi. Ia mengotak-kotakan realita, dan juga membekukan waktu. Akan tetapi, realita dan waktu yang dibekukan ada dalam kuasa manusia yang memegang kamera. Manusia dan batasan-batasan moralnya lah yang membatasi realita dan menentukan waktu kapan yang dapat disampaikan.

Di balik realita dan waktu yang dibatasi, fotografi memiliki intensi personal dari orang-orang di balik lensanya. Intensi-intensi tersebut tentunya didukung oleh realita dan waktu yang disampaikan dalam medium fotografi. Sebagai contoh, kebanyakan iklan rokok tanpa kita sadari mendorong maskulinitas dalam diri seorang pria dengan lansekap gunung, hutan juga dengan subjek yang digambarkan mengarungi lansekap tersebut, menyampaikan nilai berani mengambil risiko yang tentunya dapat diinterpretasikan secara tendensius untuk mengambil risiko ketika Anda mulai merokok.

Selain itu, salah satu fenomena yang menarik dalam fotografi yang dilakukan oleh manusia pada umumnya adalah seringkali foto mendehumanisasikan manusia. Lewat kuasa dibalik lensa, manusia dijadikan pelengkap sebuah objek; sebuah properti. Sebuah foto juga kadang mempertegas batasan kelas ekonomi pun sosial dari sebagai manusia. Representasi-representasi inilah yang terkadang jadi menyedihkan ketika kita melihat dampak apa yang dapat diberikan foto-foto tersebut dalam era dunia yang menerima mentah-mentah kristal realita tanpa meniliknya lebih jauh; tanpa memaknai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *