MYSTIQUE: How to Capture Photos that Tell Stories?

oleh Aristina Marzaningrum

Bulan Juli kemarin, tepatnya tanggal 28, saya dan beberapa kru lain yaitu Buje, Ario, dan Iqu mengikuti workshop fotografi yang berjudul “How to Capture Photos that Tell Stories?” di Lo.Ka.Si Coffee and Space dan dibawakan oleh Dani Huda. Dalam workshop ini, mas Dani membaginya menjadi beberapa bagian yang menurut saya bisa diartikan sebagai tahapan-tahapan dalam menghasilkan si calon karya.

Pada awalnya workshop dibuka dengan topik fotografi dan sejarahnya. Pada jaman dulu, kamera merupakan alat yang sangat mahal sehingga hanya kalangan tertentu yang berkesempatan memiliki kamera. Lalu mas Dani membahas bagaimana hal tersebut bisa mempengaruhi orang-orang di jamannya. Selain itu, fotografi memiliki peran yang sangat penting dalam mendokumentasikan sejarah karena pada jaman dulu belum ada rekayasa dalam fotografi. Sampai akhirnya fotografi bisa menjadi awal mula adanya film yang kita tonton di jaman sekarang.

Bahasan selanjutnya menjadi lebih menarik karena Mas Dani membicarakan mengenai emosi dalam fotografi. Beliau memberikan contoh tentang foto Soekarno dan Mohammad Hatta.

Screen Shot 2018-11-13 at 13.07.53

Screen Shot 2018-11-13 at 13.08.16

Bagaimana citra atau karakter yang ada di pikiran kalian ketika melihat foto Soekarno dan Mohammad Hatta? Pada buku sejarah sering kita temui foto kedua tokoh diatas. Soekarno dengan gayanya yang “menggelegar” dan terlihat sosok yang vokal, sedangkan Mohammad Hatta terlihat diam namun bijak. Ya, kita bisa menilai karakter mereka karena pembangunan citra yang ada dalam “foto-foto” mereka (dengan catatan, hanya jika kita melihatnya lewat foto).

Berangkat dari emosi, pengartian emosi ini juga bergantung pada bagaimana sang fotografer menangkap citra dan emosi dari objek yang diambil. Peran fotografer tidak hanya dalam menangkap momen, tetapi juga perlu penataan artistik baik pra maupun pasca proses pengambilan foto tersebut. Contohnya adalah analogi warna, pemilihan tempat, serta pemilihan benda-benda yang mendukung pencitraan objek yang akan diambil. Untuk memberi contoh, mas Dani memberikan foto jaman dulu. Bisa dilihat pada foto di bawah (bukan foto yang diberikan mas Dani tetapi cukup mewakili yang ingin disampaikan) kita dapat menduga bahwa pria tersebut adalah orang yang berasal dari kalangan atas. Hal ini dapat dilihat dari pakaian yang dikenakan memiliki banyak aksesoris dan juga jas sebagai pendukung bahwa dia berasal dari kalangan atas, yang kala itu mungkin tidak semua orang dapat memakainya. Selain itu juga dilengkapi dengan meja dan kursi yang banyak pula aksesorisnya. Interpretasi tersebut pun dapat lahir karena penataan artistik yang dilakukan oleh pihak yang ada saat pengambilan foto tersebut berlangsung. Ini berarti penataan artistik juga merupakan hal penting untuk dilakukan agar hasil foto yang kita inginkan dapat sesuai dengan pencitraan yang fotografer atau objek inginkan.

Screen Shot 2018-11-13 at 13.08.46

Membicarakan foto jaman dulu, mari kita tarik isu “Kenapa jaman dulu fotonya terlihat lebih bercerita?”. Bisa kita bandingkan dari segi teknologi misalnya. Jaman dulu orang belum bisa mengulang fotonya berkali-kali jika hasil jepretan si fotografer dinilai kurang baik. Selain itu proses fotografi jaman dulu pun tidak secepat jaman sekarang, sehingga untuk bergaya atau senyum pun memerlukan waktu yang tidak sebentar. Akibatnya gaya yang ada di dalam foto tersebut memang keadaan nyata saat proses pengambilan foto itu berlangsung. Berbeda dengan jaman sekarang, banyak orang mengambil foto karena ingin terlihat bagus.

Dalam workshop ini, mas Dani Huda juga menyinggung mengenai kontemporer dengan menayangkan video klip Beyonce yang berjudul APES**T – THE CARTERS. Pada jaman dulu, orang dengan ras negroid hampir seluruhnya diperbudak dan tidak diperbolehkan untuk memasuki museum-museum, contohnya Museum Louvre. Dari video klip APES**T – THE CARTERS, bisa kita lihat bagaimana Beyonce sebagai ras negroid menunjukkan keadaan jaman sekarang yang sudah sangat berbeda dengan melakukan pengambilan video klip di Museum Louvre, yang harga sewanya pun sangat mahal. Menjadi menarik karena video klip tersebut pun sarat makna tanpa harus banyak effort. Hanya dengan sebuah video klip bisa menggambarkan bagaimana perbedaan jaman sekarang dan jaman dulu. Mas Dani juga memberikan contoh video klip Kendrick Lamar yang berjudul ELEMENT. Video klip ini terinspirasi dari beberapa foto yang diambil oleh Gordon Parks. Gordon Parks sendiri merupakan fotografer legendaris yang seringkali menangkap black people di Amerika sebagai objek fotonya. Berikut merupakan potongan-potongan klip video yang scenenya diilhami dari karya Gordon Parks. 

 

Baca! Baca! Baca! 

Dari awal workshop ini dimulai, mas Dani selalu berpesan untuk baca! Ya, riset mengenai objek yang ingin kita foto sangatlah penting. Dampaknya adalah bagaimana kita berhasil memunculkan citra yang ingin kita tampilkan, karena lagi lagi foto adalah sebuah pengkotakan dan hanya dapat digambarkan lewat suatu momen. Jadi, “baca” pun tidak hanya sekedar riset tetapi bagaimana sebagai seorang fotografer bisa membaca keadaan. Pun, pencitraan ini dapat direkayasa dan di-inject oleh sang fotografer untuk memunculkan citra yang ingin dikeluarkan dari objeknya.

Terakhir, mas Dani memberi masukan jika kita ingin mengambil foto, usahakan untuk terlebih dahulu membuat moodboard sesuai yang kita inginkan tanpa mencari referensi dari internet (contoh: pinterest). Mengapa? Karena kembali lagi ke masalah orisinalitas, dan bisa saja ada pengaruh dalam proses pencitraan tersebut.ED5B2DDE-66E7-4098-B442-5E335C829F4A

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *