WACANA: KELAS FOTO TANPA BIKIN FOTO

Terus bikin apasih? Namanya juga wacana.

Oke sekarang serius.

WACANA merupakan salah satu kelas godokan Arkademy Project yang berfokus pada pengenalan pembacaan karya fotografi, itulah mengapa kepanjangannya Workshop Analisis Citra dan Makna. Kelas yang berlangsung selama dua hari ini diampu oleh tiga mentor yaitu Kurniadi Widodo atau Mas Wid, Ben K.C. Laksana, dan Rara Sekar Larasati (selanjutnya RaraBen). Pada hari pertama peserta diperkenalkan dengan kerangka pembacaan fotografi secara umum oleh Mas Wid. Sedangkan pada hari selanjutnya, peserta  dijejali pemahaman bahwa konteks (lingkup isu) non-fotografi sangatlah penting dalam pembacaan karya foto. Peserta juga diserahkan beberapa pisau analisis kritis untuk memahami konteks-konteks yang seringkali tak kasat mata. Materi ciamik ini disajikan oleh duo maut RaraBen (nyebutnya enakan BenRara, tapi cari aman biar ga kerasa seksis naro Ben di depan mulu hehe).

Mas Wid memulai kelas dengan meminta peserta untuk menempelkan tiga buah karya foto masing-masing peserta yang telah diminta untuk dibawa sebelumnya pada dinding. Kemudian, setiap peserta dipersilakan untuk memilih satu foto yang menarik, asal bukan foto karya sendiri. Lalu peserta diminta mengutarakan alasan kami memilih foto tersebut—padahal belum dikasih materi apapun loh! Emang ya Mas Wid bener-bener. Setelah dibuka dengan ke-sotoy­-an masing-masing peserta atas pembacaan foto yang dipilihnya, barulah Mas Wid menjejali peserta dengan ocehannya yang berfaedah.

Mulai Dari Mana?

Materi Mas Wid suangat buanyak pemirsa!Rasanya akan sangat tidak praktis kalau semua harus dimuat dalam tulisan singkat ini. Akan tetapi, saya akan menyorot beberapa poin penting yang mungkin berguna bagi pembaca.

Mas Wid membuka materi bukan dengan basmalah, tapi dengan kutipan berikut.

“The illiterate of the future will be the person ignorant of the use of the camera as well as the pen.”

László Moholy-Nagy Painting Photography Film (1925)

Mas Wid kemudian menampilkan bagaimana kita mempraktikkan fotografi dalam keseharian baik yang secara sadar ataupun tidak. Lantas dengan telah berperannya fotografi sebagai moda komunikasi, ia seakan menjelma sebagai bahasa. Akan tetapi, berbeda dengan bahasa yang telah kita kenal sebelumnya, bahasa ini cenderung lebih cair, tidak memiliki makna baku seperti kata dapat mewakili satu makna. Kenyataannya kebanyakan dari kita belum awas akan bahasa ini, lantas kegagapan dalam membacanya pun menjadi sangat kentara. Salah satu bukti kegagapan yang cukup mengerikan juga mengkhawatirkan adalah temuan bahwa 65% dari 132 juta pengguna internet asal Indonesia mudah percaya dengan hoax baik dalam bentuk foto maupun tulisan.

Itulah mengapa upaya pembacaan foto menjadi penting. Namun perlu dicatat bahwa pembacaan foto tidak akan pernah selesai, karena sudut pandang 1 orang selalu dapat dilawan dengan argumen tandingan dari sudut pandang orang lain. Apabila terus dilatih, kita sendiri pun dapat menghasilkan berbagai macam perspektif—sebuah bekal awal literasi.

Untuk bisa membuka pikiran pada berbagai macam kemungkinan sudut pandang tersebut, Mas Wid memperkenalkan kerangka pembacaan foto yang (mudah-mudahan) dapat mempermudah pembacaan makna dan rasa yang tersirat dalam foto.

Mas Wid menyayat elemen foto menjadi empat kuadran, Visual, Teknis, Konteks Fotografis, dan Konteks non-Fotografis. Kerangka ini mengingatkan saya dengan tiga aspek dalam film yang dikenalkan oleh Adrian Jonathan dari Cinema Poetica, yaitu Konten, Konsep dan Konteks. Menariknya lagi setelah kami berlatih membaca foto dengan kerangka ini rasanya empat aspek tersebut ekivalen dengan tiga aspek dalam film:

  1. Visual merupakan Konten dan Konsep (rupanya dalam kuadran fotogafi Mas Wid, hal-hal semacam “pola”, “tema”, atau “logika” dapat diterjemahkan sebagai “komposisi”);
  2. Teknis adalah tambahan, namun bisa jadi sama dengan Konten Sinematografis;
  3. Konteks dipecah menjadi dua

Tentang bagaimana kerangka ini digunakan tidak akan saya jabarkan secara rinci, namun penggunaan kerangka ini cukup mudah dan dapat menjadi pisau bedah awal untuk mendobrak keawaman kita terhadap pembacaan foto. Yang penting kalau bingung: jabarkan semua yang terlihat dahulu!

Sesi selanjutnya masih diampu oleh Mas Wid, namun kali ini ia menceritakan bagaimana fotografi bermula dari camera obscura sekitar 170 tahun yang lalu kemudian berkembang dari teknologi yang elit menjadi teknologi yang sangat umum, padahal foto pertama pada saat itu ga karu-karuan oleh Niépce yang disempurnakan oleh Daguerre pada tahun 18r9y1830ry82k’nsft’0k’glm49gy8-8y34890tuy384giv0k4iytu458gqv ……….3rwd5gq

Maaf penulis ketiduran diatas keyboard.

Intinya Mas Wid ingin menekankan kepada peserta bahwa gaya visual fotografi (portrait, landscape, still life, street photography) lahir bukan karena keren-kerenan, tapi dianggap menjadi senarai (tools) pembawa gagasan yang paling efektif. Hal ini penting supaya kita tidak semata-mata percaya bahwa gaya visual (estetika) tertentu berhenti hany pada terlihat “bagus” belaka.

Analisis Kontekstual

Pada hari selanjutnya, duo maut masuk kelas yang kemudian dibuka dengan satu kutipan sakti mandraguna.

“Fotografi tidak muncul dari ruang vakum, ia akan selalu menjadi cerminan dari masyarakat itu sendiri.”

Rara Sekar dan Ben Laksana (2018)

Kutipan pembuka itu merupakan pengingat bahwa foto tidak pernah bisa terbebas dari nilai-nilai yang beredar di masyarakat yang memengaruhi perspektif fotografer dalam melihat konteks gender, kelas, relasi kuasa, politik, ideologi, ras, etc etc etc.

Lantas untuk membiasakan peserta mengamini ‘kredo’ tersebut dalam setiap pembacaan foto, RaraBen mengenalkan semacam manifesto pembacaan foto.

  1. Ubah asumsi menjadi pertanyaan
  2. Telusuri relasi antara konten foto dengan konteksnya
  3. Pandang foto dengan kacamata non-fotografis, seperti kacamata sosial, budaya, kelas, ras, gender, ekonomi, dan masih banyak lainnya (bisa mulai dari ras, gender, dan kelas dahulu, atau konteks apapun yang menurutmu relevan secara personal)
  4. Tulis pembacaan tersebut dalam satu tulisan yang jelas dan kritis (tidak perlu 1000 kata; 100 kata pun OK!)

Kemudian RaraBen menunjukkan bagaimana informasi visual dan estetika dalam karya fotografi dapat mempertanyakan/menyuarakan perlawanan/penguatan asumsi umum/stigma populer yang bergulir di pikiran masyarakat.

14952
Gambar 3 Peserta berdiskusi tentang pembacaan suatu foto

Kepekaan peserta dalam membaca foto rasanya tidak akan tumbuh serta merta dengan hanya mendengarkan mereka berdua berkicau, lantas peserta diberikan latihan-latihan pembacaan foto melalui berbagai kacamata berpikir. Kemudian sebagai tugas penutup, mereka membagi kami menjadi 5 kelompok kecil yang diberikan satu foto untuk kami baca dan diskusikan. Pada akhir kelas setiap kelompok harus mampu mempresentasikan gagasan yang mereka temukan selama melakukan pembacaan.

Keberadaan kelas seperti WACANA menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan konteks kekinian. Kita tidak akan selamanya menjadi produsen foto, bahkan secara tidak kita sadari kita lebih sering mengonsumsinya. Menjadi konsumen foto yang lebih cerdas artinya membantu mengembalikan kewarasan ekosistem fotografi yang belakangan ini mengalami kemunduran dengan adanya publik figur fotografi yang menganggap kritik fotografi hanya dilakukan oleh orang bodoh.

Kelas ini mengingatkan saya dengan cerita kejadian di Gua Hira sekitar 1400 tahun lalu. Ketika seorang buta huruf yang sedang duduk bersila, tetiba ia diteriaki “BACA! BACA! BACA!” oleh suara yang berasal entah darimana. Sejak kejadian itu, beliau diangkat menjadi Rasul dan kelak memimpin salah satu kelompok kepercayaan yang berpengaruh di dunia. Rasanya dalam sesi ini Mas Wid dan RaraBen seakan meneriaki di samping gendang telinga kami, “BACA! BACA! BACA!”—meski   peserta tidak lantas diangkat menjadi Rasul.

penulis
FA
penyunting
OB

13898
Gambar 4 Peserta dengan para mentor

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *