Workshop Basic Video Editing: How to Colorgrade Your Video by Irvan Aulia of Rasamala Film

Sabtu, 17 Februari 2018

Srunding Cafe

Dalam mengedit video, workflow itu penting. Biasanya orang mengedit tanpa menggunakan workflow, biasanya ini sering kali dilakukan oleh orang yang memang tidak dalam kehidupan sehari-hari nya mengedit video (e.g. Orang yang kebetulan di suatu acara kepanitiaan mendapat bagian dengan jobdesc membuat video aftermovie/teaser/dsj namun pada kehidupan sehari-hari memang tidak secara rutin menggunakan Adobe Premiere atau software editing sejenisnya). Mungkin dalam kasus-kasus tersebut kebutuhan dari menggunakan workflow itu memang tidak terlalu terasa, namun jika seseorang tersebut melakukan editing video secara rutin, ataupun sedang mengedit sebuah video dalam skala yang relative besar, maka penggunaan workflow yang rapih menjadi sangat penting.

Dalam sebuah proyek video, saat semua gambar yang diperlukan sudah berhasil diambil, proses selanjutnya yang perlu dilakukan sering juga diserbut post production. Post Production workflow ini terbagi dua:

  • Offline Editing
    1. Assembling : Proses membuat sequence dan memasukkan semua video tanpa dicut
    1. Rough Cut : Merupakan hasil cut pertama dari edito nya sebelum dilihat oleh sutradara nya
    1. Director’s Cut : Revisi dari cut nya setelah dilihat oleh sutradara
    1. Approval : Setelah penyusunan footage-footage/cut nya sudah selesai pada offline editing, proses editing selanjutnya yang perlu dilakukan adalah online editing
  • Online Editing
    1. Coloring : Proses pewarnaan video nya untuk menghasilkan mood yang diinginkan atau untuk menyampaikan pesan yang ingin diberikan kepada penonton.
    1. Motion Graphic : Penambahan grafik-grafik bergerak untuk menyampaikan suatu informasi seperti contohnya pada opening credit/title.
    1. VFX : Penambahan visual efek pada video jika memang diperlukan.
    1. Audio Process : Proses mastering audio seperti leveling dan semacamnya.

Salah satu langkah dalam post-production yang penting untuk dilakukan setelah selesai shooting adalah FOLDERING.

Pengklasifikasian folder-folder ini sendiri sebenarnya bertujuan untuk memudahkan editor dalam melakukan editing-nya, sehingga memang tidak ada standar yang baku/benar/salah, namun pengklasifikasian yang biasa dilakukan oleh Irvan Aulia adalah

  • Pra (dokumen dan sebelum produksi)
  • Footage
  • Foto
  • Audio
  • Project Files
  • Support

 

Sebelum masuk ke Color Correction atau Color Grading, perlu diketahui dahulu sebenarnya dalam sebuah gambar (baik itu diam maupun bergerak) terdiri dari apa saja, yaitu:

Color (Warna) + Greyscale (Cahaya)

  • Color (Warna)

Dari dua color modes yang ada seperti RGB dan CMYK, dalam software-software editing seperti Adobe Premiere, Davinci Resolve, dan sejenis nya yang digunakan adalah RGB. Di mana RGB ini dapat dilihat dengan menggunakan waveform, RGB parade, dll.

Red >< Cyan, Green >< Magenta, Blue><Yellow

  • Greyscale
    • Highlights
    • Midtone
    • Shadow

Saat sudah masuk pada tahap Coloring, secara umum proses ini terbagi menjadi dua:

  1. Color Correction

Berbeda dengan Color Grading yang salah satu tujuannya untuk mengedit warna menjadi dapat menghasilkan mood yang diinginkan, color correction ini memiliki tujuan untuk memperbaiki warna pada video yang sedang diedit sehingga sesuai dengan aslinya (e.g. memutihkan tembok yang putih jika pada hasil video yang sedang diedit ternyat terlalu biru/kuning).

Dalam melakukan color correction, mata bisa menipu, sehingga perlu menggunakan alat bantu selain dari mata telanjang dalam mengkoreksi warna tersebut.

Sebenarnya, idealnya white balance nya memang sudah diatur dengan benar dari kamera saat mengambil video nya, namun jika sudah terlanjur salah, ASAL tidak overexposure sehingga detil-detil nya hilang, masih bisa diperbaiki saat mengedit.

Alat bantu dalam melakukan koreksi warna untuk mengetahui apakah warna nya sudah benar apa belum adalah pada tab Lumetri Scopes di bawah tab Color:

  •  Histogram
  •  Vectorscope HLS dan Vectorscope YUV
  •  Waveform (RGB)
  •  Parade (RGB)

Salah satu cara untuk mengecek apakah warna nya sudah benar dengan menggunakan Parade (RGB) adalah dengan:

Jika dalam suatu footage ada benda yang memiliki warna yang harusnya berwarna putih (e.g. kertas, tembok putih), crop bagian tersebut dengan menggunakan effect Crop, kemudian lihat Parade (RGB) nya, jika puncak pada tiap band warna merah, hijau, dan biru nya sudah sejajar, berarti sudah benar white balance nya. Jika tidak, misalnya hijau nya masih kurang naik, yang berarti footage tersebut masih perlu warna hijau lagi, bisa ditambah dengan menggunakan window Lumetri Color yang ada di bagian kanan Adobe Premiere (by default jika tidak diubah-ubah oleh pengguna nya).

pastedGraphic.png

Seperti misalnya pada tab Basic Correction dengan mengatur-ngatur temperature dan tint nya.  Namun selain dari tab Basic Correction saya juga akan sedikit menunjukkan apa saja yang bisa diubah-ubah dengan menggunakan tab lainnya dalam window Lumetri Color setelah bagian Color Grade.

  1. Color Grade

Color Grade memiliki beberapa tujuan seperti:

  • Memperindah
  • Menentukan nuansa (yang dipengaruhi juga dengan teori psikologi warna)
  • Membedakan karakter, tempat, dimensi waktu

Variabel yang mempengaruhi dalam melakukan color grade ini di antaranya:

  • mise en scene (make up, wardrobe, lighting, artistik, dll) –> bagian ini sebenarnya merupakan tugas dari sutradara untuk mengaturnya.
  • File data (bitrate, formate recording, profile picture [tugas cameraman], dll)
  • Software dan plugin (PR, AE, Speed Grade [SG], baselight)
  • Creative treatment : seperti penggunaan plugin semisal 3D LUT, film convert, magic bullet, dll

Namun untuk pemula tidak disarankan untuk langsung menggunakan preset/LUT karena penting untuk mengetahui dasar-dasar perubahan warna nya terlebih dahulu. Salah satu cara untuk mengubah-ubah nya secara manual adalah pada window Lumetri Color seperti pada halaman berikut ini.

Basic Correction          Creative               RGB Curves              Color Wheel

Tab-tab di atas dapat digunakan untuk melakukan perubahan-perubahan pada warna seperti untuk melukan color correction atau color grade manual.

Untuk Irvan Aulia sendiri, salah satu tools yang sering dia gunakan untuk meng color grade adalah RGB Curves, di situ dapat dilihat ada 4 warna; putih, merah, hijau, dan biru. Putih untuk mengatur exposure, dan merah, hijau, dan biru nya untuk band dari warna-warna tersebut. Di mana bagian sepertiga bawah nya untuk shadow, bagian sepertiga tengah nya untuk midtones, dan bagian sepertiga atas nya untuk highlights. Di atas garis diagonal itu artinya untuk menerangkan, di bawah garis diagonal itu untuk menggelapkan.

 

Selain menggunakan Adobe Premiere seperti yang sudah ditunjukkan di atas, untuk melakukan Color Grade juga dapat menggunakan software editing lain seperti misalnya Davinci Resolve.

Bagi yang belum tahu, Davinci Resolve ini merupakan salah satu software yang sering digunakan dalam proses Coloring pada film-film Hollywood, biasanya dengan menggunakan alat bantu berupaka dock station  nya.

pastedGraphic_1.png

ilustrasi, sumber: http://www.jigsaw24.com/fcp/content/davinci-resolve/content

Namun, untuk software nya sendiri, sebenarnya dapat diunduh secara resmi dan gratis dari website nya Black Magic Design.

Software ini dapat dibagi menjadi 4 bagian:

1. Media, merupakan tempat untuk mengimport footage kedalam software tersebut sebelum diedit.

2. Edit, merupakan tempat untuk melakukan cutting, audio synching, dan memasukkan musik pada project yang sedang dikerjakan. Kurang lebih sama dengan Adobe Premiere.

3. Color, nah di sini baru merupakan tempat kita melakukan coloring.

4. Deliver, merupakan bagian untuk mengeksport file kita.

Kelebihan Davinci Resolve ini dibanding Adobe Premiere adalah dia memiliki stabilizer yang lebih baik dari Adobe Premiere dan dalam versi berbayar nya memiliki fitur noise reduction yang sangat baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *