Workshop Visual Storytelling, Photography, and Videography

12 Februari kemarin, V-Kool mengadakan Workshop Visual Storytelling, Photography, and Videography. Mereka menghadirkan Arbain Rambey, seorang fotografer dan jurnalis senior dari Kompas yang sudah menggeluti dunia visual semenjak beliau SMP. Saat ini beliau adalah Redaktur Foto Harian Kompas.

 

 “Foto, video dan tulisan kuat mana?”

Pa Arbain menjelaskan pertanyaan tersebut seperti “Pecel sama soto enak mana?” Keduanya ga bisa dibandingin. Karena keduanya memiliki kekuatan dan peran tersendiri, makanya media cetak menggunakan keduanya. Foto memberikan kesan visual, sementara tulisan memberikan sisi verbalnya. Tidak semua hal bisa verbal, tidak semua bisa visual. Contohnya, kalau rupiah anjlok, fotonya apa? Atau pasar goncang, ga mungkin ada fotonya. Sebaliknya, ada hal tertentu juga dimana tulisan kalah dengan foto. Misalkan kerusakan karena longsor ini parah. Kalau hanya dalam bentuk tulisan, orang ga akan bisa kebayang seberapa parahnya. Tapi dengan disertai foto, orang bisa membayangkan. Jadi ada saat dimana foto lebih kuat, ada saat dimana tulisan lebih kuat.

Foto dan tulisan. Visual dengan verbal. Keduanya bisa berdiri sendiri, tapi saat kita menjelaskan foto dengan tulisan, atau kita menyertakan sebuah foto pada tulisan, makna atau arti yang ingin disampaikan menjadi lebih kuat. Banyak hasil photobooknya yang kerjasama dengan orang lain untuk memberikan tulisan.

 

“Foto ini salahnya dimana?”

Foto dan video tuh punya 4 elemen. Teknis. Posisi. Komposisi. Momen. Yang bisa auto tapi cuma teknis, lainnya ga bisa. Posisi, komposisi, momen semuanya tergantung si pemotret. Ga usah malu pake auto, yang penting posisi komposisi momennya kita dapet. Kalo ribet-ribet mikirin teknis tapi ga bisa mikirin yang lainnya, percuma. Nah, banyak orang nanya, foto ini salahnya dimana? Banyak orang mengira foto itu hanya soal teknis, padahal bukan. Kebanyakan foto yang salah itu salah posisi motretnya. Orang banyak yang dapat merasakan foto ini bagus atau ga, tapi tidak bisa menjelaskan kenapa foto ini bagus. Bagaimana sebuah foto bisa unggul dibandingkan foto lain. Lalu apa yang disebut dengan “foto bagus” itu? Kenapa foto tersebut unggul dibandingkan foto-foto lainnya. Kenapa foto tersebut bisa menang lomba? Beliau memberikan 4 kriteria dalam menilai sebuah foto.

Bagus. Indah. Berbicara. Menarik.

Bagus. Definisinya foto bagus itu gimana? Foto bagus itu foto yang sesuai dengan tujuannya foto itu. Misalnya foto desain interior ruangan, foto yang bagusnya adalah foto yang membuat kita ingin berada di dalam ruangan tersebut. Atau foto pelantikan Jokowi menjadi Presiden pada tahun 2014, foto yang bagus adalah foto yang dapat menggambarkan suasana kemeriahan pada saat itu. Satu foto yang sama bisa menjadi bagus pada suatu konteks, dan tidak bagus di konteks yang lain.

Indah. Foto indah itu soal komposisinya, tonenya, atau gampangnya, foto ini menyenangkan untuk dilihat atau ga? Komposisinya sudah baik? Tone dan warna dari fotonya pas?

Berbicara. Foto berbicara dengan memberikan kesan visual, namun apakah kesan visual yang ingin disampaikan itu mudah ditangkap oleh orang lain? Tapi, bukan berarti informasi yang “dibicarakan” oleh foto itu adalah informasi yang biasa saja. Foto yang berbicara itu mudah dimengerti walaupun informasinya lebih dari biasa.

Menarik. Foto yang menarik itu foto yang berbeda dari yang lainnya. Misalkan sebut saja objeknya candi Borobudur. Banyak orang memotret candi Borobudur dengan sudut yang sama, dalam rentang waktu yang sama. Karenanya, foto tersebut menjadi tidak menarik karena sudah sangat klise. Ketika menilai foto yang jumlahnya beribu-ribu atau bahkan lebih, kriteria pertamanya adalah apakah foto itu menarik atau tidak. Kalau fotonya menarik, baru fotonya dinilai dari sisi lainnya. Kalau fotonya ga menarik, di skip. Gimana cara seorang fotografer bisa membuat foto menarik itu dari pengalamannya, pengetahuannya. Makanya sering-sering liat foto, membaca, perluas wawasan fotonya.

 

“Foto jurnalistik?”

Dalam dunia foto jurnalistik, prioritasnya itu ga boleh kecolongan. Kita siapin banyak personel sekalian di beberapa spot, bahkan spot yang mungkin ga bakal ada apa-apa, jangan sampai kecolongan sama orang lain (media lain). Biasanya ada pembagian tugasnya juga, misalnya waktu pelantikan Jokowi, ada yang bertugas ngikutin kereta kudanya, ada yang kebagian di jembatan penyebrangan, ada yang kebagian buat nyari foto-foto lucu juga. Selain itu, sebelum mulai motret, kamera yang dipakai disetting dulu waktunya biar sama persis. Ini memudahkan buat nanti sortir karna waktu digabungin segitu banyak foto dari beberapa kamera, bisa disort sesuai waktunya. Motret jurnalistik ngincer momen atau komposisi? Harus 2-2nya. Ga bisa milih salah satu.

“Foto itu sudah jadi sebelum dipotret”

Foto jurnalistik itu harus ada rancangannya dulu. Kalo pergi ke lokasi belum ada rancangan apa-apa, nyampe di lokasi bingung mau motret apa, akhirnya dapetnya dikit atau bsa ga dapet apa-apa. Di Kompas, ada kebiasaan fotografer harus ngegambar/sketch foto yang mau diambil dulu sebelum berangkat.

 

“Video?”

Sebenernya ga banyak yang dibahas langsung dari videografi, tapi disinggung beberapa kali. Kurang lebih materinya sama dengan foto. Karena pada dasarnya video itu kumpulan frame-frame foto. Ga semua hal bisa dijelaskan dengan 1 frame gambar (foto) doang. Ada yang dalam 1 frame itu bisa kuat banget, tapi tetep dalam beberapa hal kita butuh motion, moving frame buat ngejelasin momennya. Misalnya mau ngedokumentasiin proses suatu pekerjaan.

Sebagai penutup, lihat foto headline news dari beberapa surat kabar ini. Terlihat jelas kan, foto yang menarik yang mana?

Foto Headline Surat Kabar

*Buat para pembaca, tulisan ini mungkin lebih bisa ditangkep kalau ada contoh-contoh fotonya. Apalagi bagian soal foto bagus. Ini contoh kenapa visual dengan verbal itu saling menguatkan juga. Hehe

-Ivan Wiryadi

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *