Mari Membaca #1 : Haru and Mina

Semenjak didonasikannya buku Haru and Mina karya Hideaki Hamada oleh the-one-and-only Aditya Wicaksono, karya ini seringkali menjadi rujukan banyak kru dalam menghasilkan sebuah karya fotografi. Secara praktis buku ini menginspirasi minat kru dalam memotret dengan komposisi yang rapi, warna yang ke-putih-putih-an, dan menggunakan kamera film. Keberpengaruhan buku foto ini mendorong empat orang pengangguran yang awam buku foto untuk mencoba pertama kalinya membaca buku foto kemudian menyampaikannya dalam sebuah diskusi ringan di suatu kedai kopi.

Opini pertama berasal dari Obe. Menurutnya buku ini sangat menekankan relasi antara ayah dengan anaknya, fotografer dengan subyeknya, dan subyek dengan calon pembacanya. Relasi antara anak dan ayah terlihat dari foto kaki Haru atau Mina yang sedang duduk di atas lantai kayu. Dari semua foto yang diambil dengan menunggu momen-momen jahil kakak beradik ini, foto kaki ini merupakan foto yang tidak perlu menunggu satu momen yang tepat. Sehingga terlihat voyeurism seorang ayah yang secara alami senang memerhatikan setiap sudut dari anaknya, termasuk jari-jari mungilnya. Sementara relasi antara fotografer dengan subyeknya terlihat dari bagaimana Hamada mengambil foto-foto subyeknya. Obe menyadari bahwa mayoritas foto dalam proyek ini selalu mencoba menyesuaikan garis mata subyek dengan kamera fotografer. Teknik seperti ini dapat memberikan kesan hormat yang tinggi terhadap subyeknya seperti film-film Jepang pada umumnya, misal Tokyo Story. 

Tokyo_Feature_Current_video_still.jpg
Tokyo Story (1953)

Opini selanjutnya dari Gijul. Menurutnya buku foto ini sesederhana ekspresi rasa kasih sayang seorang ayah dengan mengapresiasi setiap momen-momen yang dilewatinya bersama anaknya. Gambar-gambar yang didokumentasikan Hamada seringkali merupakan momen sederhana anak-anak yang sedang senang-senangnya bermain yang bagi kebanyakan orang tua sering melewatkannya. Selain itu buku foto ini menunjukkan kedekatan seorang anak terhadap ayahnya ketimbang ibunya. Terlihat dari kebebasan Haru dan Mina bertingkah secara enjoy yang mungkin saja tidak akan terjadi jika ibunya yang mengikutinya.

Kemudian Elba dengan jurus multitasking sembari mengerjakan tubesnya pun menyumbangkan opini. Menurutnya yang ditangkap oleh Hamada tidak hanya momen-momen tingkah anaknya. Tetapi lebih jauh lagi relasi antara fotografer dengan subyeknya sebagai anak-anak yang sedang dalam pengawasan orang tuanya. Hal ini terlihat dari foto-fotonya Hamada yang dekat namun berjarak. Maksudnya Hamada mengenal tingkah-tingkah anaknya lebih dari siapapun, namun ia tidak berusaha untuk melakukan intervensi kepada mereka. Seperti pada foto ketika Haru sedang memanjat tiang di jalan.

72252-4418318-88.jpg
copyright Hideaki Hamada

Opini terakhir dari Farraz. Menurutnya pada dasarnya proyek ini tidak berbeda jauh dengan fenomena instagram anak-anak kecil seperti @babytatan dan semacamnya. Namun yang membuat proyek ini begitu istimewa adalah apresiasi Hamada terhadap momen-momen ini secara elegan. Apresiasi ini ditampilkan dengan penyusunan komposisi yang rapi, warna yang konsisten, dan pemilihan momen yang unik. Selain itu yang membuat foto-foto Hamada berbeda adalah bagaimana ia menempatkan dirinya lebih menjadi fotografer ketimbang seorang ayah. Sehingga Haru maupun Mina bertingkah alami seolah-olah tidak ada kamera di sekitarnya. Ke-invisible-an Hamada dalam keseharian Haru dan Mina ditunjukkan dengan foto Haru yang sedang berbincang dengan kawan wanitanya diambil dari celah pintu kelasnya.

698644.jpg
Thanks to Shabrina

Kemudian untuk melatih kepekaan kami terhadap pembacaan buku foto, kami memilih satu foto favorit dengan alasan yang jelas. Obe memilih foto Haru yang berbincang dengan kawan wanitanya di kelas yang diambil dari celah pintu. Menurutnya foto ini sangat menunjukkan voyeurism Hamada sebagai seorang ayah. Maksudnya Hamada meskipun memiliki wewenang sebagai seorang ayah untuk melakukan apapun terhadap anaknya, ia memilih untuk memberikan jarak dengan mereka. Sehingga dengan teknik seperti ini Hamada tetap menghargai privasi anaknya tanpa mengintimidasi dengan bidikan kamera.

Gijul memilih foto Haru dan Mina sedang berangkat sekolah sembari membawa payung. Menurutnya foto ini menunjukkan kasih sayang Hamada tidak terpaut oleh hal-hal yang baru atau unik saja, tetapi dari hal sesederhana seperti mengantar anaknya pun manjadi foto yang penting bagi bukunya.

72252-4368359-10 (1).jpg
copyright Hideaki Hamada

Elba memiliih foto Haru dan Mina yang sedang berpose ala Kamen Rider di tengah jalan. Karena foto ini merepresentasikan tingkah anak kecil pada umumnya yang tidak malu-malu untuk melakukan hal random di depan orangtuanya. Sehingga foto ini juga menunjukkan pada khalayak bahwa Hamada sebagai ayah memberikan kebebasan berekspresi kepada anak-anaknya.

72252-4368369-27.jpg
copyright Hideaki Hamada

Farraz memilih foto kaki Haru atau Mina yang sedang duduk diatas lantai kayu. Seperti yang sudah diceritakan Obe dalam opininya. Foto ini menunjukkan bahwa sebelum Hamada melihat tingkah-tingkah anaknya pun, ia sudah memiliki rasa sayang yang mendalam kepada anaknya yang direpresentasikan oleh jari-jari mungil kakinya. Foto ini tidak mengambil sebuah momen, tetapi pembaca yang melihatnya dapat merasakan kontemplasi Hamada sebagai seorang ayah.

72252-4368380-81.jpg
copyright Hideaki Hamada

Dalam prosesnya opini kami ini dibentuk sambil berdiskusi, sehingga satu orang dapat mengembangkan atau mengkritik opini masing-masing. Hasil akhirnya kami menemukan opini kami masing-masing secara utuh. Selain itu diskusi pun membantu kami untuk menjelaskan kesukaan kami terhadap beberapa foto dalam buku ini. Akhir kata kami hanya ingin mengajak pembaca untuk mencoba membaca buku foto kemudian mendiskusikannya di keseharian. Tidak usah dipikir yang berat-berat, mulailah dari apa yang kalian rasakan, kemudian perdalam dengan membuka diskusi dengan kawan.

MARI MEMBACA!!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *