EPILOGUE: Fase/Siklus

Pameran online menjadi suatu tren baru bagi penggiat karya seni di masa pandemi yang melanda saat ini. Berbagai cara kreatif dibuat melalui berbagai media digital yang ada. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan akan ruang pameran tidak dapat tergantikan. Di satu sisi, eksplorasi media digital menghasilkan berbagai pengalaman baru bagi penikmat karya seni  yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Salah satu buktinya ialah pameran EPILOGUE : Fase / Siklus. 

EPILOGUE : Fase / Siklus adalah pameran Tugas Akhir mahasiswa sarjana jurusan Arsitektur ITB yang dipersembahkan oleh Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadarma ITB (IMA-G ITB). Diadakan mulai tanggal 8 juni hingga 8 juli 2020 di laman situs www.epilogueitb.com. Pameran yang mengangkat tema fase/siklus ini menampilkan foto gambar sketsa-sketsa tangan, beragam hasil rendering dan visualisasi 3D, serta foto-foto wisudawan di akhir perjalanan studi di ITB yang seolah mengisahkan bahwa dalam setiap desain arsitektur yang dibuat, terdapat proses panjang dalam perjalanan studi seorang arsitek. 

EPILOGUE merangkai pameran dalam 3 fase. Fase Satu:Benih mengisahkan awal perjalanan desain/arsitek yang berawal dari gagasan lalu ditorehkan dengan pensil di atas kertas. Pada fase ini kita dibawa mengikuti alur sebuah proses yang diibaratkan tumbuhan bermula dari benih. Kata demi kata, kemudian foto-foto sketsa awal yang dapat dipindah, diputar, ditumpuk seakan mengajak pengunjung bermain dengan foto-foto diatas meja. Kemudian diakhiri dengan cuplikan video bentuk pameran dalam bentuk 3D. 

 

Fase Dua:Mekar menampilkan hasil akhir sebuah desain yang siap diuji atau dinilai. Puisi dan karya persembahan wisudawan ditampilkan dan diakhiri kembali dengan cuplikan video lanjutan. Karya-karya yang ditampilkan dapat dipilih lalu terbuka laman baru tentang karya tersebut. Namun dengan adanya fitur ini, pengunjung dapat dengan mudah melewatkan karya yang ditampilkan. 

Fase Tiga:Siklus mereka ulang jejak saat-saat terakhir menyelesaikan pendidikan melalui foto-foto yang menjadi saksi bisu perjalanan studi yang telah mereka tempuh. Foto-foto seakan menceritakan arti siklus yang berbeda-beda bagi setiap orang. Pengunjung juga diajak untuk menceritakan arti siklusnya masing-masing menggunakan kolom yang disajikan. Fase ini diakhiri dengan video kelanjutan dari fase sebelumnya.

 Tampilan laman web terkesan minimalis dan modern dengan layar hitam dan putih membuat saya terfokus pada gambar dan tulisan-tulisan yang disajikan. Kalimat kalimat muncul dengan jeda sesaat ketika memasuki halaman web membuat saya seakan-akan dituntun untuk mengikuti kalimat demi kalimat. Penggunaan bahasa Indonesia yang puitis tetapi mudah dipahami ditambah interaksi lewat foto-foto dan animasi membuat pesan yang ingin disampaikan diterima oleh pengunjung. Dengan penyampaian materi pameran yang mudah dipahami, pameran ini berhasil membuat saya memahami proses perjalanan desain dan lebih mengapresiasi karya arsitektur.

Tak hanya lewat penampilan laman web, EPILOGUE juga memberikan 2 mode ekstensi tambahan, yaitu The Prologue dan The Extended Space. Bila diibaratkan suatu naskah atau kisah, The Prologue merupakan bagian pengantar atau kilas balik dari kisah fase dan siklus yang terdapat dari pameran ini.

Kemudian The Extended Space adalah mode tambahan  yang memberikan anda pengalaman ruang visual 3D seakan-akan anda berada di ruangan pameran. Mode ini merupakan gabungan dari cuplikan-cuplikan video yang ditampilkan di akhir setiap fase. Anda akan dibawa menelusuri ruangan pameran yang sudah didesain khusus melewati kolam lalu memasuki terowongan bawah tanah. Menelusuri ruangan sembari melihat tulisan, dan karya-karya yang sama dengan yang terdapat pada laman web. Kemudian berjalan di bawah bulan purnama hingga menemukan jalan buntu di tengah kolam menghadap ke arah bulan yang mengisyaratkan bahwa perjalanan virtual anda telah berakhir disini. Saya sendiri merasa lebih tertarik dengan mode The Extended Space dibandingkan dengan mode laman web biasa karena gambaran ruang virtual ini memberikan kesan “ruang” lebih yang membuat saya seperti sedang berada di sebuah pameran fisik.

Tak hanya tampilan visual, EPILOGUE juga menghadirkan playlist musik yang dapat diputar lewat aplikasi Spotify berjudul MONOLOGUE. Memang tak lengkap rasanya apabila sebuah pameran tidak diiringi musik yang sesuai. Sebuah perpaduan yang pas apabila anda mengunjungi pameran ini seraya mendengarkan lagu-lagu pilihan yang semakin meningkatkan vibe pameran dan bagi anda yang hanya ingin fokus pada isi pameran dapat memilih untuk tidak memutar musik. Tentunya pilihan ini tidak ada dalam pameran fisik. 

 EPILOGUE juga menghadirkan filter Instagram yang dapat di unduh pada aplikasi Instagram. Filter menarik ini seakan-akan menjadi ‘buah tangan’ yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Sebuah langkah inovatif yang mungkin tidak terpikirkan pada pameran fisik dan secara tidak langsung menjadi publikasi yang kreatif/out of the box

 Secara keseluruhan, pameran ini sangat menarik secara visual ataupun dari segi materi, dan mudah diakses di mana saja dan kapan saja. Fitur-fitur tambahan seperti playlist musik, filter Instagram, dan The Extended Space juga menambah pengalaman berinteraksi dengan ruang pameran. Dengan tema dan pesan yang dibawa juga mengajarkan kita untuk lebih mengapresiasi proses. Pameran ini juga membuktikan bahwa pameran online tidak kalah menarik dari pameran fisik dan memiliki banyak inovasi baru yang sebelumnya tidak terdapat di pameran fisik.

Ditulis oleh M Faizin Fitriansyah M

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *