“Dirimu Orang Baik”, Review Buku Foto Kuning

Oleh M. Vito Sami Fauzan

Kuning. Nama yang simple namun cukup unik juga. ‘Kenapa judulnya kuning?’, pertanyaan itu terlantas dalam pikiran ku sebelum membaca buku ini. ‘Terus, kenapa judulnya kuning?’, setelah membaca buku nya, kalimat tersebut masih tetap terlintas dipikiran ku setelah selesai membaca. Mungkin, aku (belum) bisa menyimpulkan sendiri apa maksud judul ‘Kuning’ pada buku ini, namun aku akan tetap me-review dan menulis opini ku terhadap buku ini, photobook pertama yang saya baca.

S__10280963

S__10280964

Pembabakan yang unik

Photobook ini menceritakan sebuah cerita singkat tentang kehidupan seseorang. Menceritakan tentang POV seorang perempuan terhadap ayahnya yang telah meninggal dunia.

Bagaimana pembabakan disusun dengan cara non-linear membuat buku ini menarik. Kita tidak tau babak apa yang akan muncul selanjutnya. Kita hanya bisa menebak, dan menikmati. Cerita biasa dimulai dengan cara linear, seorang lahir, hidup, lalu mati. Pada buku ini, Naztia menyusun dengan alur yang unik, dimulai dari ‘Terjerat’ yang menceritakan proses sang ayah saat ia sakit, ‘Masa Kejayaan’ yang menceritakan masa-masa muda sang ayah, dilanjut dengan ‘Peninggalan’ yang berisikan apa saja yang ditinggalkan oleh sang ayah di muka bumi ini, dan diakhiri dengan ‘Kebanggaan’ yang berisi prestasi-prestasi sang ayah saat ia sekolah sampai dewasa. Sebuah alur yang non-linear, namun tidak hanya berfungsi sebagai gimmick belaka, melainkan membantu dalam menyampaikan cerita pada buku ini.

Setiap babak dikemas dengan baik. Setiap babak memiliki foto-foto yang khas tersendiri, dan dalam photobook ini dituliskan dengan dengan tinta yang berbeda, merah, biru, ungu, dan pink. Penggunaan warna yang berbeda-beda ini membantu dalam menambahkan suasana yang berbeda dalam tiap babak . Aku memiliki beberapa pendapat tersendiri mengenai warna-warna tersebut tapi aku tidak akan menjelaskannya satu per satu. Aku memberikan satu contoh saja, merah, sebuah warna yang cenderung berasosiasi dengan rasa kesal, dan marah. Menurut ku penggunaan warna merah ini menunjukkan campuran rasa kekesalan sang penulis melihat sang ayah jatuh sakit dan lemah.

S__10412064

Foto yang selalu ditemani kata

Pemilihan foto dalam photobook ini bisa dibilang cukup personal dan bagus namun masih membutuhkan sebuah caption untuk memperjelas maksudnya.

Pada babak ‘Terjerat’ foto hanya ada 2. Foto yang dipaparkan adalah foto ruangan dan memiliki unsur cukup gloomy, cocok dengan apa yang ingin disampaikan dalam babak ini (keadaan saat Ayahnya sakit). Namun sayangnya, menurut ku masih banyak foto yang bisa di explore dan dimasukkan kedalam babak ini untuk lebih menambahkan unsur gloomy dan sedih dalam babak ini.

Pada babak ‘Masa Kejayaan’ dan ‘Peninggalan’, foto digunakan dan diambil dengan baik. Di ‘Masa Kejayaan’, foto-foto yang dipaparkan menjelaskan karakter sang ayah pada masa mudanya. Penggunaan caption sangat penting untuk membantu meluruskan interpretasi pembaca agar selaras dengan apa yang ingin disampaikan dalam photobook ini. Dan foto-foto di babak ‘Peninggalan’ berhasil memberikan tone nostalgia dan rasa-rasa ‘ditinggalkan’. Ruangan dan objek yang ditampilkan memiliki kesan personal yang cukup kuat.

Babak ‘Kebanggaan’ bisa dibilang babak yang paling lemah diantara babak lainnya. Pada babak ini penulis memilih foto-foto sertifikat dan rapot sebagai lambang ‘kebangaan’ yang telah ayahnya lakukan selama hidup. Namun aku rasa, kurang kuat foto-foto yang dipaparkan dalam babak ini. Foto-foto terasa lebih ‘malas’ dibandingkan foto-foto lainnya, yang lebih meng-eksplore ruangan dan benda. Tidak berarti foto-foto di babak ini jelek. Ada beberapa foto yang diambil secara menarik dan dibantu oleh sebuah caption-caption yang personal, hanya sedikit lemah saja jika dibandingkan foto-foto di babak lainnya.

Lakban Kuning

Di setiap foto yang terdapat sang ayah di dalamnya, wajahnya selalu ditutupi oleh lakban kuning. Entah apa maksud dari penulis melakukan hal ini. Aku memiliki interpretasi sendiri, dan kalian pembaca juga pasti memiliki interpretasi kalian masing-masing.

Lakban ini merupakan pesan implisit inti dari buku ini menurut ku. Karena didalam buku ini, semua foto dan caption dijelaskan dengan eksplisit dan jelas. Saya senang dengan penggunaan metafor implisit seperti ini. Tidak terlalu banyak, dan tidak terlalu sedikit. Tidak membingungkan pembaca, tapi tetap membuat pembaca merenungkan sejenak buku ini setelah dibaca.

Mungkin, itu saja review dari ku. Aku cukup puas dengan photobook pertama yang aku baca, dan mungkin aku akan melanjutkan membaca photobook-photobook lainnya (jika sempat). Terimakasih sudah membaca.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *