Review Photobook: BEBAS MURNI

oleh Carotama

Fotografi masa kini memang sudah menjadi seni yang sangat dekat dengan khalayak masyarakat. Hampir semua orang sudah memiliki akses terhadap kamera. Semua orang adalah fotografer. Zainal Fatah, seorang penjaga lapas Pondok Bambu, menciptakan sebuah buku foto yang menceritakan tentang perspektif lain mengenai kehidupan narapidana dan penjara.

Buku ini dikemas dalam kotak logam yamg memberikan nuansa dingin dan lebih kokoh terhadap karya secara keseluruhan, layaknya jeruji terhadap narapidana. Pada awal buku, Zainal Fatah menampilkan 2 foto: foto kunci dan foto CCTV, yang memberikan impresi pertama kepada pembaca tentang ‘bebas’ dari suatu hal. Impresi ini diperkuat dengan beberapa foto setelahnya : foto langit dan foto tatto.

Terdapat 3 ide utama pada Bebas Murni:

ADA SUATU ‘DUNIA’ DI DALAM DUNIA

Kalimat Zainal Fatah pada awal buku memiliki peran cukup besar pada foto-foto dalam buku ini. Terdapat 2 foto yang sangat kuat akan kalimat tersebut yaitu, foto tanaman pada jendela dan ibu-anak di dalam jeruji.

Kedua foto ini menampilkan objek-objek keseharian manusia, namun dengan latar yang berbeda, membuat pembaca sadar bahwa penjara bagaikan miniatur dunia namun dengan detail yang sedikit berbeda.

PENYESALAN DATANG TERAKHIRAN

Ide ini dapat ditangkap oleh pembaca melalui tulisan-tulisan napi yang dilampirkan bersamaan dengan foto.

29651873-5dab-4f87-8a8c-91a85c7f2dde.jpeg

Suara hati yang timbul karena dihantui masa lalu, terasa sangat personal. Tulisan- tulisan ini membuat pembaca merasakan penyesalan yang dirasakan oleh napi.

OVER CROWDED

Frasa yang disebut oleh Zainal Fatah ini, dapat terlihat pada pemilihan komposisi foto pada buku. Objek foto yang memenuhi frame, memberikan perasaan ‘riweh’ saat membaca. Pembaca bahkan dapat dibuat tidak nyaman, seperti muncul urgensi untuk ‘bebas’.

Secara keseluruhan, buku ini menunjukkan keadaan dalam lapas yang jarang diulik, karena stigma ‘jahat’ dan ‘kotor’ yang muncul. Namun buku ini lebih fokus pada pandangan penghuni lapas itu sendiri. Sehingga pembaca diberikan rasa iba dan tidak nyaman pada saat membaca.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *