Review Photobook : Belanda Sudah Dekat!

oleh Damar Bagaskoro

Kira-kira,

Apa yang bisa menyatukan para lumenproletariat yang nyaris mustahil naik kelas seperti para petani, istri-istri purnawirawan yang suaminya mentok jadi sersan atau pembantu letnan, dan pemain sepakbola di klub amatir yang gawangnya ditongkrongin bences-bences cuco, bo?

Apa yang bisa menyatukan para penjaga : mulai dari satpam-satpam penjaga ruang privat, tante-tante (boleh yang girang, boleh juga engga) di studio pilates/aerobik penjaga kebugaran dan kelangsingan tubuh, penjaga pantai yang cangcutnya tipis tapi ototnya tebal, sampai (orang berkostum) robot-robot tokusatsu-ish si penjaga antariksa yang hobinya nebeng perang di bumi?

Apa yang bisa menyatukan anak-anak muda yang doyannya (dandan a la anak) punk sampe akhwat-akhwat sholehah ikrema yang mungkin sudah dijamin masuk surga firdaus oleh Gusti Allah yang mboten sare?

Apapula yang bisa menyatukan angkatan berapa/apa-pun (HA!) dari instansi atau akademi atau keluarahan atau komplek manapun?

Dan yang paling penting,

Apa yang bisa menyatukan mereka semua?

Kata BamSoet sih, Pancasila. Tapi kalo kata Ariel Heryanto, ya musuh bersama. Musuh bersama ini macem-macem rupa dan bentuknya. Dari yang kulit putih sampai berwarna; Dari yang bola mata-nya biru sampai yang matanya sipit ; Dari yang kolonialis sampe imperialis. Mau londo kek, mau nippon kek, mau amrikiyah kek, mau tiongkok kek, mau malaysia kek, kaga jadi soal.

Nitya Samakta Maawarti Sarwabaya. Yang penting siap siaga, katanya. Mana tau, mana tau lho ya, pemeo “Belanda masih jauh” itu ternyata keliru.

Salah satu foto dalam Belanda Sudah Dekat!

Belanda sudah dekat! nampak bermain-main dengan retorika tersebut — judulnya aja udah counter-narasi yang cukup menohok!

Alegorinya ga merambah ranah/soal identitas (siapa/apa?) — Padahal, Belanda itu term yang identik dengan identitas (siapa/apa) — atau motivasi (kenapa/ada apa?), tapi lebih dasar dari itu : soal eksistensi (ada/belum ada/ga ada?) dan pertanyaan-pertanyaan setelahnya : adakah musuh bersama itu? apa perlu kita bersiaga, kalaupun musuh itu misalnya tidak ada?? — yang berarti, term Belanda ini hanya dimanfaatkan untuk mempertegas ke(mungkin)hadiran si musuh bersama ini. Pertanyaannya, kenapa Belanda? apa karena ia sudah mengakar kuat di benak masyarakat sebagai musuh bersama atau karena buku ini adalah hasil kerjasama dengan Heden dan the Netherland Embassy? kalau dapet funding-nya dari Asia Center, mungkin judulnya jadi Jepang sudah dekat! ya ;p? Dan apa jadinya kalau judul buku ini tidak menggunakan apa-apa/siapa-siapa yang terstigma sebagai musuh bersama di judulnya? apakah ia akan terbaca dengan intensitas serupa??

Karena rangkaian (atau hanya kumpulan? karena sepertinya tidak dirangkai dengan cukup jeli, atau Wimo tidak mengantisipasi pembacaan macam ini akan muncul? mungkin saja juga Wimo berlindung dibalik keberuntungan gagasannya yang terlanjur besar/akbar/mega, jadi ya, penempatan foto tanpa sequencing pun pasti ok-ok aja) foto dari sembilan angkatan (angkatan ke-6 sampai 15) lintas milieu yang kompakan pegang Nerf atau pistol air gobanan di Beringharjo/toko kelontong sambil berpose ini memang menempatkan “kesiagaan” (atau kesadaran? — yang sama-sama ditunjukan dengan para subjek berpose dengan sadar?) sebagai elemen utama (dan satu-satunya?) penunjang gagasan besar/akbar/mega tadi. Musuh memang tidak (di)hadir(kan) secara fisik, tapi siaga? ya tetap perlulah. Barangkali, ternyata “Belanda” (memang) sudah dekat!

Oh, dan menariknya, tak tampak milieu para bourgeoisie parlente Jakarta di Belanda Sudah Dekat! Suatu tanda kah? atau karena Wimo tidak punya akses kesana?

Setelah pariwara berikut ini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *