Review Photobook : In The Middle Of The Night, I Miss You

Oleh Ramadida Rai Pahlevi

こんにちは

 

IMG_6607

Untuk Papa, kami sangat merindukanmu…

Sebuah kutipan dari buku foto -In the middle of the night, i miss you-  karya Aji Susanto Anom. Sebuah karya yang sentuhan personalnya kuat selalu menjadi daya tarik untuk saya. Foto-foto yang memiliki nilai personal kuat menurut pengalaman saya merupakan foto-foto yang mempunyai potensi untuk benar-benar berkomunikasi dengan pembaca semacam mempunyai nilai magis tersendiri. Aji Susanto Anom merupakan seorang fotografer asal Solo. Pembawaan yang surreal dan karakter visual yang kuat menjadi salah satu ciri seorang Aji Susanto Anom. Buku foto yang saya coba ulas ini merupakan buku foto yang tercipta dari pengalaman Mas Aji yang bisa dibilang sangat personal. Dari covernya bisa diterka-terka bahwa buku foto ini merupakan hasil dari sebuah hubungan manusia dengan manusia, but don’t judge the book by it’s cover right.

IMG_6608

Membuka halaman pertama buku foto ini, sudah terpampang jelas deskripsi  yang dibuat oleh Mas Aji tentang kematian bapaknya. Yup buku ini adalah tentang kematian bapaknya, suatu pengalaman yang mungkin tidak semua orang bakal alami. “Kok bapak meninggal bisa-bisanya foto!”, muncul asumsi menarik membayangkan netijen  mengomentari buku foto ini. Mungkin ini yang menjadi ketertarikan saya untuk memilih buku foto mas Aji untuk saya ulas.

Bagaimana caranya disaat emosional sedang tidak stabil seseorang bisa menciptakan karya?

Berangkat dari pertanyaan tersebut, saya mencoba untuk baca, baca, baca karena sungguh seluruh pertanyaan bisa terjawab apabila kita membaca. Satu-persatu halaman saya telusuri dan dengan sotoy saya coba amati. Secara visual, Mas Aji setia dengan style b/w dan high contrast dalam karya kali ini, tone yang mirip dengan karya Mas Aji lainnya. Suasana yang dark dan mistis saya rasakan seiring berganti halaman. Satu hal yang membuat saya berhasil mengernyitkan dahi dan membolak-balikan halaman demi halaman adalah buku foto ini memiliki 2 segmentasi utama yang saling menjembatani seperti Surabaya dan Madura SURAMADUUU!!!!     

Lanjut…

IMG_6610IMG_6611

Segmen pertama adalah kejadian kematian itu sendiri yang disampaikan Mas Aji dengan cara yang cukup surreal. Walaupun terdapat visual yang sangat  menyampaikan maknanya secara literal misal visual bapaknya yang tergelatak di ICU dan Ibunya yang menunggu, terdapat kumpulan foto yang menangkap perhatian saya. Disini selain foto literal Mas Aji mencoba menyampaikan visual yang merepresentasikan sudut pandang nyata Bapaknya yang terbaring di ICU. Mulai dari visual tentang gantungan infus yang kosong, kantong infus, sampai yang mengharukan hati saya adalah visual anak kecil yang terlihat sedang mencium pipi Bapaknya seperti mengucapkan salam untuk terakhir kalinya. Belum selesai disitu, terdapat sub-segmen yang memiliki kumpulan foto yang lebih gokil lagi. Visual-visual yang lebih sarat warna namun kaya makna. Foto tangkai tanpa daun, foto lampu disko dalam ruang hampa, bahkan ada foto yang saya juga tidak tahu objeknya apa. Mungkin Mas Aji tidak mengharapkan pembacanya mengerti secara saklek apa yang dia rasakan, mungkin memang dia hanya ingin didengar/“dibaca” tanpa menerima asumsi-asumsi kasar para pembaca… Menarik!

 

IMG_6615

Selanjutnya terdapat transisi halaman hitam yang menunjukkan sebuah sub tema baru. Pada awal segmen 2 mas Aji mendeskripsikan keadaan keluarganya dalam masa berkabung. Anggota keluarga Mas Aji terdiri dari Ibu dan Adik kecilnya yang masih berumur 6 tahun. Sajian visual Ibu dan Adiknya ditemani aktivitas sehari-hari seperti beribadah, menonton, makan, bermain. Menariknya, Mas Aji mampu menyelipkan romantis kematian dibalik aktivitas sehari-hari. Saya membacanya seperti mengetahui bahwa setiap kegiatan yang dilakukan Ibu dan Adik selalu dihantui rasa rindu terhadap Bapak. Seperti yang saya bilang diawal…MAGIS!

IMG_6616

Di satu sisi kematian merupakan peristiwa yang memberatkan pihak-pihak lain. Di sisi lain kematian merupakan akhir indah dari sebuah perjalanan. Membaca buku foto Mas Aji menyadarkan saya bahwa kematian itu romantis. Mungkin Mas Aji tidak berusaha menyampaikan dan tidak berusaha didengar. Mungkin mas Aji ingin bersenandung, menjadi romantis walau hanya 7 hari. Mungkin mas Aji hanya rindu Bapak. Mungkin ini hanya sepucuk surat cinta untuk Bapak. Pada akhirnya pertanyaan diawal tidak akan bisa saya jawab walau dalam sejuta tahun, hanya mas Aji yang tahu jawaban sebenar-benarnya jawaban. Mengutip pesan Mas Aji diakhir halaman teruntuk Raga kru LFM

“Let bygones be bygones, photograph for the one you love”

 

じゃあね                                                                                                                                                

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *