Review Photobook : Red String

Red String adalah buku foto pertama dari fotografer Yoshikatsu Fuuii.  Cover yang lembut serta dijahit dengan benar merah secara halus memberikan rasa kehangatan dalam keluarga – seperti memberikan ekspektasi akan membuka album foto keluarga bahagia dan mengenang perjalanan pernikahan mereka – namun foto pernikahan tanpa kepala dan dijahit setegah pun menjadi sebuah premonisi akan ada sebuah reversal dari Red String.

bue

Berbeda dengan pemaknaan benang merah di Indonesia yang berarti faktor yang saling terkait, benang merah di Jepang merupakan suatu legenda yang menceritakan bahwa di jari kelingking tiap orang terikat benang merah yang menguhubungkan dia dengan jodohnya, terlepas ruang maupun waktu yang berdiri di antara mereka. Legenda ini menjawab mengapa ada pasangan yang selalu akur dan saling membahagiakan namun pada akhirnya tidak dapat bersatu, maupun pasangan yang selalu bertengkar namun pada akhirnya akan saling menyayangi lagi satu sama-lain, jawabannya karena benang merahnya sudah terikat pada jodohnya. Dalam karyanya ini, Yoshikatsu Fuuii menjadikan benang merah sebagai bukti hubungan pernikahan kedua orang tuanya.

gute

Halaman pertama  sudah hampir menceritakan segalanya, Buku foto ini terpisah menjadi dua bagian yang diawali dengan dua foto, ayah dan ibu sama-sama menggendong anaknya,  terpisah dan secara bersamaan mengawali kumpulan foto mereka masing-masing. Seakan-akan sudah bukan takdir mereka untuk bertemu dan mengisi lembaran hidup satu sama lain. Dari sini kita sudah mengetahui bahwa buku ini bercerita tentang perceraian.

 

Sang Ayah

aaaa

Tergambar dari sisi “Ayah” atau kiri dari Red String bahwa ayahnya adalah sosok yang bebas dan bahagia, setidaknya sebelum tembok pernikahan memaksa ia untuk berhenti berlari, sama seperti foto pernikahan yang walau berwarna merupakan perawalan dari sekumpulan foto hitam putih yang makin lama makin mendominasi kumpulan fotonya. Opresi dan ketidakstabilan mental dalam hubungan pernikaha pun semakin ditunjukkan oleh sang ayah semakin menuju akhir buku foto tersebut. Bahkan warna-warna dalam hidupnya pun disandangkan dengan bintang-bintang yang jatuh ditanah dengan ukuran yang sangat kecil.

Apakah segala kegundahan telah menutupi rasa yang ia pernah punya ketika mendayung perahu bersama istrinya ?


Sang Ibu

oma

ketika sosok Ibu adalah minor dan terkurung dalam rumah seakan tidak memiliki kebebasan apapun, ia justru menjadi sosok yang vokal di sebelah kanan buku foto Red String, seperti relasi Ibunya dengan Yoshikatsu Fuuii yang lebih sering membuka perasaannya dalam bentuk teks. Sama seperti sang Ayah, rasa tidak nyaman sang Ibu dalam hubungan suami-istri semakin nampak, bahkan lebih frontal daripada sisi ayah. Ia meninggalkan waktu bersama teman-temannya, Ia meninggalkan dirinya dalam kesendirian, hingga rela kesepian, semua demi pernikahan yang tak seindah yang ada dalam ekspektasinya maupun orang lain.

Apakah perceraian dengan suaminya adalah hal yang dipikirkan di hari pernikahannya?

 

Buku foto pemenang LensCulture Emerging Talents 2016 ini berkesan sangat personal hingga pembacanya dapat merasakan situasi  yang dirasakan seorang anak yang kedua orang tuanya dalam masa perceraian, bagaimana itu mempengaruhi kedua orang tuanya hingga bagaimana anak tersebut berinteraksi dengan  kedua orang tuanya. Yoshikatsu Fuuii ingin menjadikan dirinya sendiri benang merah antara Ayah dan Ibunya. Dua orang yang berjalan beriringan namun dengan sudut pandang berbeda yang tidak ingin melihat satu sama-lain, narasi tersebut dirajutnya menjadi satu, dengan benang merahnya sendiri, seakan menyangkal benang merah yang mungkin sebenarnya tidak ada itu agar mereka berdua selalu teringat akan kehangatan dan kasih sayang yang pernah ada dalam  keluarga kecil itu. Segala pencurahan hati itu pada akhirnya menjadi suatu wadah refleksi hingga introspeksi mengenai pernikahan yang katanya sakral itu, namun pada kenyataannya semakin banyak pasangan yang memutuskan untuk bercerai dan menghilangkan kehangatan keluarga yang seharusnya anak mereka dapatkan.

-Mikhail Kevin Anthony

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *