Review TIRAKAT

oleh Faiza Kamilah

Melihat zine yang mengisahkan kehidupan pesantren, langsung membuat perasaan 3 tahun tinggal di boarding school yang mungkin lebih baik dari pesantren, ingin segera menemukan ceritanya. Foto-foto yang sentimental bagi Pesantren adalah tempat pendidikan yang mana para siswa (kerap disebut santri) belajar di bawah asuhan gurunya yang dipanggil dengan sebutan ustad, atau lebih tepatnya, Kiai. Para santri tinggal di asrama, dengan aturan yang ketat dan mengikat karena telah dipilih keputusan untuk meninggalkan rumah mereka dan segala kenyamanannya. 

Qolbee Maliki berasal dari salah satu pesantren di daerah Jawa Tengah ini berkesempatan untuk menjenguk ulang tempat sakralnya setelah 11 tahun lulus dari sini. Hingga akhirnya zine ini lahir.

Zine berjudul Tirakat ini bertuliskan banyak keterangan dengan huruf arab pegon pada setiap fotonya, lengkap dengan pembacaan arab pegon- bahasa indonesia, dan latar kertas menguning. Meneriakkan ada hal yang sangat personal dituangkan dan ingin diteguk oleh pembacanya. Ciri khas dari sebuah pesantren, biasanya mengkaji dan mengaji kitab-kitab kuning untuk mendalami agama mereka yang biasanya dilakukan dengan banyak santri lainnya dengan Pak Kiai.

Visualisasi dari kegiatan para santri yang begitu banyak dan padat mulai dari bangun untuk melaksanakan solat malam yang berlanjut dengan tadarus hingga panggilan subuh, beberapa pertemuan dengan pak Kiai sebagai bekal melanjutkan hari sebelum akhirnya bebersih diri hingga kembali tidurnya yang diatur dalam sebuah jadwal secara rutin mereka lakukan. Para santri terlihat membawa beberapa kitab di tangan mereka, menaiki tangga dengan seragam lengkap –baju koko, celana kain, tak lupa peci. Jika ada hal yang menarik dan sangat hits home, adalah bagaimana hampir seluruh potret yang diambil santri dan kegiatan mereka disini adalah hal yang komunal. Selalu ramai, dibersamai santri lainnya, bergerombol, bersama-sama. Tapi tak tetap lupa menghadirkan sebuah potret bangku kosong di ujung koridor pada halaman pembuka, satu-satunya tempat untuk merasa sendiri, tempat menangis entah karena merindukan rumah atau saking tidak nyamannya menyesuaikan ritme hidup yang baru. Walau tetap minim privasi, lumayan lah. If this isn’t how boarding school is, i don’t know what it is!

Biasa tak banyak uang ataupun benda berharga yang dimiliki para santr. Biasa hidup bersama berdampingan dengan banyak orang, kehilangan kenyamanan atau bahkan privasi. Semua barang pribadi tersimpan (bahkan entah dapat disebut tersimpan atau tidak) dalam satu lemari kecil berisikan segala macam barang pribadi. Pakaian-pakaian, barang-barang ‘berharga’ (apalah yang lebih membahagiakan para santri lebih dari buku-buku baru yang masih terbungkus atau kitab yang tersusun rapih, dan makanan ringan yang diirit irit hasil penjengukan entah berapa lama yang lalu), sepatu, sandal (itupun kalo belum di ghasab), dan alat mandi. Tulisan-tulisan sebagai penjelasan ringan ini menambah kesan personal antara foto lemari & si fotografer, dan sampai dengan hangatnya kepada pembaca. Tak banyak pula hal hal duniawi yang dapat dilakukan selayaknya pemuda pada umumnya, tak ada gawai sebagai hiburan, ataupun jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kembali kepada makna Tirakat, melakukan segala sesuatu mengingat kebermanfaatannya untuk menjernihkan hati agar dapat lebih dekat dan mengenal Allah SWT.


Namun, bukan berarti tidak bisa. Para santri ini terkenal nomor satunya mencari kesibukan di tengah-tengah jadwal yang padat dan peraturan yang ketat. Hiburan mereka seringkali berbeda dengan remaja seumuran mereka pada umumnya. Masih dalam rangka adaptasi, menjadi kreatif untuk tetap menikmati masa nyantri, diluar kemampuan kawan seumuran mereka pada umumnya. Disinilah kebersamaan dan pengorbanan mereka teruji.

Tirakat menghadirkan suasana pesantren yang tidak dapat dimiliki semua orang. Mulai dari detail-detail kecil seperti seragam, kegiatan sehari-hari dengan latar yang sangat kuat. Gambar ini mengundang penikmat untuk ikut menjalani kehidupan yang pernah dirasakan oleh sang fotografer, 11 tahun lalu. Walau dengan kamar sempit, makanan yang sedikit. Namun tetap kembali ke makna Tirakat yang ia yakini. Foto-foto ini tersimpan sebagai time capsule bagi dirinya, dimana mereka ada untuk mengulang kembali kejadian di masa lalu, mengingat dan mengenang.

Akhir kata, bagi semua orang yang sedang berjalan dengan beratnya setelah shifting dari kenyamanan yang ditinggalkan. Sebait dari fotografer (yang dengan sedikit susah payah saya artikan), awalnya saya pikir ini berat tapi pada akhirnya saya menikmati masa-masa ini dulu.

1 thought on “Review TIRAKAT”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *