Subway Portrait: Karya Organik dari Bawah Kota New York

Subway Portrait merupakan seri foto yang dipotret oleh Walker Evans pada tahun 1938.
Secara diam-diam, Evans menangkap momen penumpang kereta bawah tanah Kota New York.

Mengenal Lebih Dekat Walker Evans

Walker Evans (3 November 1903 – 10 April 1975) memulai karier nya sebagai fotografer dengan bergabung ke dalam Farm Security Administration (FSA) atau lembaga pertahanan pertanian Amerika yang terkenal dengan program fotografi kecil tapi sangat berpengaruh. Karya-karya street photography Evans kurang lebih banyak berpengaruh — salah satu penyebabnya adalah pengalaman kerja Evans di FSA yang mengharuskan ia menangkap momen ‘transenden” atau melampaui apa yang terlihat.

Semasa hidupnya, Evans menghasilkan karya fotografi secara produktif; diketahui bahwa pada kurun waktu 1928-1974, ia dengan menghasilkan ±360 karya fotografi dan 68 karya pameran yang terdapat di situs online.

My goal as a photographer is to make pictures that are “literate, authoritative, transcendent”

– Walker Evans

Planned/Unplanned Works

Boleh dikatakan Walker Evans sangat ingin menangkap momen “kejujuran” dari para warga New York yang menumpangi kereta bawah tanah. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, Evans menangkap momen ini secara diam-diam. Dalam pengambilan series yang berjumlah 12 foto ini, Evans menyembunyikan kamera Contax 35mm nya di balik mantelnya dan fakta unik yang didapat bahwa Evans sangat merencanakan pengambilan foto! Berkenaan dengan itu, dikatakan pula dalam artikel MoMa, bahwa Evans meminta temannya yang juga sesama fotografer Helen Levitt untuk bergabung dengannya dalam pemotretan kereta bawah tanah, untuk memastikan aktivitasnya tidak mencolok. Selain itu, dikatakan pula bahwa Evans hingga mengecat bagian krom mengkilap kamera nya menjadi berwarna hitam agar tidak menarik perhatian. Details matters, right?

Ia mempersiapkan segala hal hingga ke bagian detail untuk menjaga output dari series ini agar tetap “organik”. Ia sadar bahwa orang pasti akan “mengatur diri mereka” dan mengubah ekspresi mereka jika mereka tahu bahwa mereka sedang difoto.

Fakta ini sangatlah menarik karena seri foto ini seolah-olah menggambarkan sesuatu yang “mentah” dan “organik”, namun dibalik itu semua, foto-foto tersebut sudah terencana dengan baik hingga ke bagian detilnya. Biasanya, untuk mendapatkan hasil yang alami, terkadang unsur “unplanned” dan spontanitas selalu menjadi hal yang utama. Namun, dalam seri foto ini, Evans mampu mendapatkan hasil yang natural dengan terencana. Menarik bukan?

Legal kah?

Jika dikorelasikan dengan norma dan hukum yang berlaku saat ini, apa yang dilakukan Evans dalam seri foto tersebut adalah hal yang dapat termasuk ke dalam salah satu kegiatan yang tidak legal dan merupakan sebuah pelanggaran hukum karena memfoto orang tanpa persetujuan bisa dikategorikan sebagai sebuah pelecehan serta melanggar privasi. Terlebih, fokus dari foto ini adalah portrait photography, yang menonjolkan unsur manusia dan ekspresi. Mungkin, dapat dikatakan bahwa untuk membuat karya seni yang ingin memotret unsur “alamiah” dari suatu realitas, kita dapat menggunakan pendekatan yang berbeda dengan apa yang digunakan Walker Evans, yang bahkan cukup kontradiktif dengan treatment yang digunakan oleh Walker Evans dalam Subway Portrait. Menurut saya, treatment yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan melakukan penggalian lebih jauh cerita mengenai seseorang dengan menggunakan approach mengobrol, menggali apa yang orang itu rasakan, apakah ia berkenan untuk difoto, tanyakan e-mail orang tersebut untuk memberi hasil dari foto kita atau tunjukan langsung hasil fotonya. Hal tersebut memanglah terdengar rumit dan tidak praktis, apalagi jika dipikir-pikir, banyak persepsi manusia dewasa ini yang sangat terpengaruh akan pola hidup cepat dan cenderung menghindari dialog ketika berada dalam keramaian. Namun, sudah sepatutnya kita menghargai hak dan kewajiban sesama manusia, bukan?

Dari segi isi foto, yang dapat dilihat dari series ini merupakan gambaran jujur dari portrait manusia yang mungkin sehabis pulang dari bekerja atau masih harus menyelesaikan masalah-masalahnya; dapat tergambar jelas disini. Bahkan, Evans juga menuliskan dalam narasi nya:

“The guard is down and the mask is off, even more than when in lone bedrooms (where there are mirrors). People’s faces are in naked repose down in the subway.”

– Walker Evans

Teknis yang Tidak Terlalu Teknis

Selain itu, dapat dilihat dalam pembuatan karya, Evans sangatlah konsisten memakai rol hitam-putih ke dalam hampir semua karya-karya nya. Ini dapat diasumsikan dalam kurun waktu 1928-1975 memang rol warna belumlah ditemukan. Selain itu, yang dapat diapresiasi dari foto ini adalah kelihaian Evans secara non-teknis; karena ia tidak menyesuaikan fokus, exposure, maupun penggunaan flash. Evans meninggalkan semua kontrol yang biasanya digunakan fotografer dan berusaha membuat potret yang apa adanya. Terlepas dari unsur non-teknis, Evans mampu menangkap objek-objek ini secara apik — padahal umumnya, proses memotret menggunakan kamera analog sangatlah perlu memperhatikan teknis; tetapi Evans mampu melakukan nya.

Secara keseluruhan, Walker Evans berhasil menangkap portrait orang-orang yang tenggelam dalam percakapan, membaca, atau tampaknya tersesat dalam pikiran dan suasana hati mereka sendiri, yang ditunjukkan dengan penggambaran wajah subjeknya yang menunjukkan berbagai macam emosi. Ia juga berhasil menyelesaikan tantangan sulit dalam membuat potret, yaitu seolah-olah benar-benar tidak terawat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *