Dibawah Kanopi Sudirman Street

Waktu bada maghrib selalu menjadi waktu yang tepat untuk mencari suatu hal untuk menumpas kelaparan. Karenanya saya, Ikhsan, Olga, Astra, A Hadi, dan Cici Nadia (Mahatmi) meluncur ke Sudirman Street. Disana kami melahap makanan kami masing-masing dengan khusyuk sambil membicarakan apa saja yang terlintas di tengkorak kami. Suatu saat saya penasaran dengan tanggapan A Hadi terhadap workshop camera movement yang baru saja dilaksanakan sehari sebelumnya. Lantas saya menanyakan apakah workshop itu cukup memberikan pengetahuan bagi kru-kru.

Menurutnya workshop tersebut cukup menarik karena Irvan dan Alan (pematerinya) cukup terbuka membagikan ilmu-ilmu yang mereka miliki pada kami bahkan dari teknis-teknis detail sekalipun. Namun sayangnya dia merasa materi yang disampaikan seharusnya bisa lebih mengaitkan teknis-teknis kamera tersebut dengan konsep yang ingin disampaikan. Seperti ketika ingin mengambil mood menyenangkan movement apa yang dapat dikaitkan dengan hal tersebut. Menurutnya justru anak-anak LFM kurang memahami benar alasan dari pemilihan teknis camera movement tersebut sehingga sebaiknya workshop kemarin dapat mengakomodir hal itu.

IMG_3394

Kemudian Ikhsan dan Olga pun ikut berkomentar. Olga merasa minimnya pemahaman itu bisa dikurangi dengan menambah referensi film yang ditonton para pembuat karya. Sedangkan Ikhsan berkata bahwa justru memang Irvan dan Alan bukan orang yang bisa menyampaikan hal tersebut karena mereka lebih sering membuat beauty shot tanpa alasan yang benar-benar kuat. Lalu soal pemahaman krunya mengenai hal itu dipengaruhi langsung dari rasa penasaran krunya. Menurutnya kru yang pernah membuat film dari masa TPB akan lebih punya rasa penasaran karena ia yakin membuat film sejak TPB punya efek candu bagi pembuat karyanya.

Sedangkan cici Nadia berpendapat bahwa untuk belajar memahami hal itu bisa dimulai dengan mem-breakdown film yang sudah ada. Seperti yang sedang ia terapkan untuk mengajarkan mahasiswa-mahasiswanya, yaitu dengan memberikan film untuk diamati dan dibuat storyboard-nya. Walaupun menurutnya cara tersebut membutuhkan waktu lebih untuk membuat muridnya benar-benar paham, tetapi setidaknya cara tersebut cukup berdampak. Lalu ikhsan menanggapi cici Nadia bahwa metode itu pernah digunakan sejak jamannya Geri dan entah cara itu masih diturunkan sampai sekarang atau tidak.

Ya gitu aja dan kita lanjut melahap makanan kami masing-masing.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *