Kelas Kecil #1 : Fotografi Analog

Minggu ujian ternyata tidak mematahkan semangat kru untuk mengenal lebih dalam tentang dunia fotografi. Buktinya pada Kelas Kecil pertama yang diadakan pada hari Selasa, 3 Mei 2016 terlihat antusiasme yang tinggi dari kru-kru yang secara agresif ingin mencari tahu lebih. Kelas Kecil perdana ini dimulai dengan pemaparan singkat tentang kamera analog dan teknis-teknis dasarnya, dilanjutkan dengan games Exposure Dart, dan diakhiri dengan ngobrol-ngobrol cantik yang lebih mendalam bersama Om Fajar Eka.

IMG_0908.JPG

Pada pemaparan pertama, kamera analog diperkenalkan sebagai salah satu medium fotografi yang dapat dicoba selain fotografi digital. Soal pemilihan kamera analog dan kamera digital bukan menjadi masalah, karena hal itu sesederhana ketika kita memilih pensil mekanik atau pensil kayu. Kemudian kami memperkenalkan roll film dan segala istilahnya (seperti ASA, exp, dll) kepada para peserta Kecil. Selain dari pengenalan fisik kami juga memperkenalkan teknis-teknis dasar seperti exposure trio. Exposure trio merupakan istilah untuk shutter speed, aperture, dan ISO dan keterkaitannya untuk menghasilkan paparan cahaya yang optimal.

Aperture atau bukaan diafragma yang semakin besar akan memasukan cahaya lebih banyak, akibatnya gambar yang dihasilkan akan lebih terang dan sebaliknya. Akibat fisik lain dari perubahan bukaan diafragma adalah berubahnya depth of field atau sederhananya jangkauan untuk fokus. Pengaturan pada bukaan besar akan menghasilkan gambar yang focus hanya pada satu obyek saja sedangkan yang lainnya samar-samar dan sebaliknya, pada bukaan kecil kita dapat membuat beberapa obyek dapat terlihat lebih jelas.

Ketika kita akan menangkap momen atau mengambil objek yang bergerak, kita dapat mengatur shutter speed. Dengan shutter speed yang cepat, kita akan menangkap momen freeze dengan lebih mudah. Sedangkan shutter speed yang lebih lambat akan memberikan efek blur atau motion pada gambar.

Dari ketiga exposure trio, ISO merupakan satu-satunya yang tidak dapat divariasikan. Beberapa orang mendefinisikan ISO sebagai sensitifitas film terhadap cahaya. Semakin tinggi angka ISO, semakin tinggi sensitivitasnya. Akibatnya ISO yang kecil akan membutuhkan cahaya lebih banyak dibandingkan ISO yang lebih besar untuk menghasilkan gambar yang serupa. Pada kamera analog SLR, terdapat pengaturan ISO yang dapat divariasikan. Namun pengaturan itu tidak berpengaruh pada filmnya, pengaturan ini hanya mengubah prediksi lightmeter pada kamera. Pada umumnya kita mengatur ISO pada kamera sesuai dengan film yang digunakan.

IMG_0911.JPG

Untuk menguji kemantapan pemahaman tentang exposure trio, kami mengajak peserta untuk berkelompok dan menantang mereka bermain exposure dart. Games ini prinsipnya sesederhana adu tepat dengan anak panah. Perbedaannya kami tidak menggunakan anak panah, bukan pula dengan kamera analog atau roll film, tetapi kami menggunakan cahaya. Papan dart diletakkan pada tiga tempat, outdoor, semi-outdoor, dan indoor. Dengan ISO film yang diberikan, setiap kelompok menebak shutter speed dan aperture untuk ketiga tempat tersebut. Empat kelompok tersebut menebak dengan serius, ada yang membayangkan di lokasinya dan ada yang berdiskusi secara intens. Kelompok akan mendapat poin maksimal 5 dan minimal 0 untuk setiap tempat. Semakin dekat ke f-stop di lightmeter, semakin besar nilainya. Sembari menunggu skor final dari semua kelompok, grup diskusi diambil alih oleh Om Fajar Eka.

Dengan segala pengalamannya memotret analog sejak duduk di bangku SMA dan ilmunya yang beliau serap dari Om Henrycus di kelas Fotografi Seni, Om Fajar Eka membuka bahasan dari sejarah fotografi secara umum. Mulai dari kamera obscura, hingga kamera SLR analog ia bahas secara ringan nan menarik. Selain membahas kameranya secara fisik, sedikit banyak beliau menyinggung keterkaitan manusia dan masyarakat terhadap fotografi itu sendiri. Maksudnya seperti kenapa kamera Leica (Leitz Camera) bisa menjadi sangat mahal dan dihargai sebenarnya tidak semata-mata hanya dari kualitas optiknya, tetapi juga siapa yang menggunakannya. Pada massa kejayaannya di era fotografi analog, kamera Leica sering digunakan tokoh-tokoh terkenal, seperti Robert Capa, Sebastião Salgado, dan jurnalis-jurnalis di masa perang dunia.

IMG_0937.JPG

Selama kedua sesi pemaparan, antusiasme kru untuk mencari tahu lebih dengan bertanya secara mendalam cukup terlihat. Seperti Via yang membuka diskusi pengaruh kamera analog terhadap gambar final yang dihasilkan. Hans mencoba menjawab. Ia berpendepat bahwa kamera hanya berpengaruh dari fitur-fitur seperti shutter speed, programmed automatic exposure, dan sebagainya, tetapi tidak berpengaruh langsung terhadap hasilnya. Yang banyak mempengaruhi kualitas gambarnya adalah film dan lensanya. Selain Via ada juga Shadiq yang membuka diskusi tentang apa perbedaan kualitas dari film 35 mm dengan film 120 mm. Hans mencoba menjawab, lagi. Menurutnya gambar dari film 120 mm menghasilkan dynamic range yang lebih tinggi. Bahkan antusiasme ini masih terlihat setelah kelas kecil selesai, Gijul, Daffa, dan Bani bertanya lebih dalam langsung pada Om Fajar.

IMG_0980.JPGIMG_0898.JPG

Kelas Kecil diakhiri dengan pengumuman skor games exposure dart sebelumnya. Sayangnya hasil menunjukan dari keempat kelompok hanya satu kelompok yang skornya tidak 0. Kelompok Adrian, Rosa, Sandhya, dan Adun memenangkan permainan dengan total skor 2 dan mendapatkan doorprize 1 roll Kodak colorplus.

IMG_0965.JPG

Kami tak menyangka ruang kecil dan informal ini ternyata cukup diminati. Apakah karena angin sepoi-sepoi lebih nikmat dibanding pancaran sinar proyektor (?). Selain itu, ternyata tidak ada salahnya membagi materi-materi dasar yang pernah dibagi ketika pendidikan cakru pada kru. Pada akhirnya kita juga menyadari bahwa memang masih banyak hal yang masih bisa dicari dan dipertanyakan tentang fotografi. Karena itu kami mengajak peserta kelas kecil untuk mencoba langsung menggunakan kamera film yang hasilnya akan kami bukukan dan kami pamerkan di wall of project.  Harapannya dengan mencoba secara langsung ini, yang sudah pernah tahu menjadi lebih paham dan yang belum tahu bisa merasakan fotografi analog untuk pertama kali.

Terima kasih bagi semua yang sudah meramaikan kelas kecil Selasa kemarin yaa! Semoga rasa ingin tahu kita bertambah dan kemampuan kita berevolusi seiring waktu! Sampai jumpa di kelas kecil selanjutnya, tunggu pameran kelas kecil #1 kami!

– Farraz Akbar

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *