SAUJANA SUMPU : “Rantau” Yang Dulu Bukanlah Yang Sekarang

aa

*Sebelum membaca resensi ini, foto-foto dalam Saujana Sumpu dapat dilihat disini.


Keluarga yang memilih untuk menetap di Minangkabau dahulu masih dapat berharap anak laki-lakinya kembali dan memajukan tanahnya – ngebangkitin batang tarandam kata orang sana. Sekarang, yang merantau sudah tidak melulu laki-laki. Dan perantau-perantau ini belum tentulah pulang. Paling hanya sesekali, dan bisa jadi malah jadi menjemput orangtua mereka untuk dibawa “pulang” ke rumah mereka – rumah mereka di kota.

Hal inilah yang coba diangkat oleh Saujana Sumpu, sebuah buku foto karya Yoppy Pieter. Saujana Sumpu berupaya menyuarakan kepelikan isu ini, di era globalisasi dan modernisasi dikumandanngkan masyarakat Indonesia yang berupaya merangkak dari label negara dunia ketiga dan memasang ibukota sebagai kiblat peruntungan.

Rumah sebagai Singgahan

Menarik bagaimana Saujana Sumpu menempatkan tanah Minang dengan Danau Singkaraknya tidak hanya sebagai sekedar rumah. Tidak hanya secara visual, hal ini ditangkap dengan pemilihan momen pemugaran rumah sebagai pembawa narasi dalam buku foto ini.

Rumah yang terbakar itu sendiri adalah sebuah tanda bagaimana rumah Gadang mungkin telah kehilangan tempatnya pada masa sekarang. Apabila dahulu ia adalah tempat anak-anaknya besar, belajar, dan bekerja, sekarang ia hanya dikaitkan dengan memori belaka. Rumah tentu bukan bangunan Gadang belaka, masih ada ladang sawah, Danau beserta binatang-binatangnya. Namun semuanya seolah berlaku sebagai pengisi etalase kenangan skenario masa muda : berenang di danau, menyelam telanjang, memancing ikan, jalan-jalan menikmati panorama Danau Singkarak bersama anjing-anjing yang setia. Indah rasanya, sekilas. Yoppy Pieter menghadirkan gambar-gambar di atas dengan cerah, bahkan diberikan spread 4 halaman untuk Danau Singkarak. Namun menjadi ironi karena perspektitf yang ditawarkan menempatkan perantau sebagai turis belaka.

Tari piring dan ritus pemugaran yang dilakukan oleh Datuk malah digambarkan dengan gelap dan sepi – oleh ketidakhadirannya generasi muda. Sebuah penggambaran bagaimana masalah yang ada (rumah yang terbakar) masih diselesaikan dengan norma lampau (Datuk tua). Ada keengganan (dan mungkin ketidakpedulian) sebagian perantau dengan perspektif yang lebih kini menanggapi masalah ini.

Beberapa teman saya dari Minang adalah perantau dan kebanyakan dari mereka bahkan mengaku tidak sesering itu juga pulang ke Padang. Alasannya terutama adalah pekerjaan. Petuah “kembali dan besarkan tanahmu” telah diintrepertasikan menjadi “besarkanlah nama garis keturunan Minang”. Ada sebuah kebanggan antar keturunan Minang ketika pejabat/orang terkenal/tersohor adalah orang Padang.

Wah orang Padang, tuh!” kata orangtua teman saya.

Yang muda mementingkan gengsi, yang tua mementingkan tanah asli. Yang satu memandang lingkup global, yang lain meratap pada lingkup lokal. Arus modernitas membuat para perantau lebih ingin berkontribusi untuk pengaruh dirinya lebih besar : lingkup kota, negara, atau bahkan dunia. Mungkin bekerja di ladang tidak sebeken kerja shift-shift-an. Makin menggelitik, karena tidak jarang ditemui curhatan perasaan alienasi yang dialami orang-orang yang bekerja di kota-kota besar. Maju kena, mundur kena?

Matriarki Kini dan Nanti

Yoppy Pieter juga menuangkan gagasannya ini melalui penggambaran tiap elemen keluarga yang masih ada di Sumpu berdasarkan umur dan gender. Laki-laki – anak-anak dan remaja terutama – di dalam Saujana Sumpu ditampilkan begitu rapuh dan ironis. Mereka terlihat bebas berenang, mandi, dan menangkap ikan, namun Danau Singkarak dan sungainya justru terlihat gelap dan tidak bersahabat, sebagaimana garis nasib yang harus mereka telan dan selami sebagai keturunan yang tidak mendapat hak warisan. Yoppy Pieter menangkap gambar-gambarnya dalam hitam-putih, sehingga air dalam Saujana Sumpu adalah kelam yang tak bisa diingkari oleh anak-anak laki-laki Minangkabau. Ujung dari merantau adalah sebuah ketidakpastian bagi laki-laki Minangkabau.

Nasib anak laki-laki Minang mungkin telah digariskan  dalam legenda asal muasal Danau Singkarak. Dikisahkan anak laki-laki bernama Indra harus mencari makan untuk dirinya sendiri karena ia terus-menerus merasa lapar. Indra meminta kepada orangtuanya, namun mereka menyuruh Indra mencari sendiri, supaya orangtuanya bisa bersantai-santai saja di rumah, bahkan makan tanpa dirinya. Karena kecewa akan hal ini, Indra bersama ayam kesayangannya, Taduang, memutuskan pergi dari tanah kelahirannya. Namun ketika mereka terbang, ikutlah terangkat batu yang sangat besar ukurannya. Ketika batu itu jatuh, terbagilah laut yang tadinya besar menjadi Danau Singkarak dengan sungai Ombilin di sekitarnya.  Sudah tidak mendapat tempat di tanah sendiri, merantaupun membawa beban yang selalu dipikul oleh si perantau. Lebih miris lagi, nasib perantau sekarang tidak jauh berbeda dengan nasib Indra dan Taduan –hilang tanpa kabar, ditelan oleh perantauan.

Mereka akhirnya menjadi sebuah sosok yang hanya bisa dinanti. Entah ilmunya, entah upahnya, atau hanya raganya. Salah satu foto menggambarkan seorang ibu yang diam di gelap sudut ruangan dengan cahaya datang dari jendela yang terbuka, menyinari kursi kosong di tengah ruangan. Entah kapan lagi mungkin sang anak kembali menduduki si kursi, bercakap dengan ibunya lagi. Saujana Sumpu menempatkan wanita – dalam hal ini ibu – sebagai makhluk yang hampa karena menanti, menunggu ruang rindunya diisi kembali. Sungguh berkebalikan dengan kesan wanita sebagaimana dipahami berada dalam sistem matriarki yang tangguh dan berkuasa. Bebrapa foto mengisyaratkan hal ini : wanita selalu terkena cerah cahaya, baik matahari maupun flash, diberi tempat dan dimandikan, sedangkan laki-laki ditempatkan kebanyakan sebagai siluet dan membelakangi bingkai. Namun porsinya tidak seberapa, sebagaimana pandangan inipun sudah tak mendapat tempat yang lekat di generas-generasi penerusnya. Salah satu foto menampilkan pengantin wanitanya berpakaian adat lengkap, dengan mahkota emasnya. Namun ia ditempatkan di tengah gelap, di antah berantah. Seolah power yang dimiliki tidak ada tempatnya di dunia yang asli dan bahkan terkesan jadi relikui.

Mungkin ini juga bagaimana generasi yang sekarang memandang rapuhnya perempuan dalam sistem matriarki. Sekalipun ia dihibahi harta, seolah ia tidak dapat beranjak kemana-mana. Apa benar power yang diinginkan adalah demikian? Di dalam buku foto ini, wanita digambarkan duduk manis statis saja, tak ubahnya dengan Mas Nganten (bukan Gadis Pantai). Tidak jauh jauh legenda, seolah yang ada di kampung tinggal menunggu kiriman ATM saja dari saudara laki-lakinya yang merantau. kalau tak bisa mengurus diri sendiri, apa memang matriarki ini sudah jadi sekedar simbol? Lantas jelas apabila akhirnya wanita-wanita Minang pun pergi merantau dan meniti karir di luar kota jua.

Foto terakhir berlaku sebagai punchline pamungkas soal pandangan terhadap kedua gender ini. Seorang anak laki-laki memegangi kepala adik perempuannya yang berada persis di atas permukaan Danau Singkarak. Entah ia sedang memandikan atau memenggal, pandangnya jauh ke atas, sedangkan adiknya menatap balik ke pembaca dengan tatapan yang kosong. Meski wanita yang memegang keluarga, maju-tidaknya peradaban di tanah asli Minang juga ada di tangan perantau – ia bisa saja memenggal peradaban Minang sementara yang berada di tanah asli hanya bisa menunggu waktunya tenggelam jadi legenda juga.

Saujana Sumpu memang tidak memberikan solusi. Ia hanyalah sebuah gambaran kondisi Minang yang kini di kampung halaman Sumpu. Yoppie Pieter mencoba melihat isu rantau ini dengan konteks yang modern. Namun pergerakan peradaban memang sebuah ketidakpastian. Pendekatan yang gelap ini membuat saya sebagai pembaca berada di posisi yang tidak nyaman membayangkan nagari Minang pada esok-esok hari. Perantau yang menyebut dirinya modern jadi kelewat banal. Yang ada di kampung jadi sejarah belaka.

Bukan tidak mungkin Rumah  Gadang, Tari Piring, Silat, dan busana khas daerahnya hanya jadi pajangan eksotis seperti di buku-buku IPS sekolah dasar – atau malah tertimbun debu, menunggu gilirannya untuk melapuk seperti kayu legam.

-Albertus Wida Wiratama 

*Foto diambil dari sini.

**Tulisan ini juga dimuat pada blog pribadi penulis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *