Special Interview : Anggun Priambodo (KW Super)

IMG_3457

Kali ini mejabatu akan mengangkat wawancara singkat dengan Aditya Dwi Putra (Mocil/Buluk) yang baru-baru ini merilis karya terbarunya, Depth of Blue. Karya ini merupakan tugas besar dari kelas Fotografi Seni yang dibimbing oleh Henrycus Napit Sunargo di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Penulis tertarik untuk mendalami karya dan proses pembuatan karya ini karena menurutnya karya ini ‘agak berbeda’ dari karya fotografi di LFM pada umumnya. Sila disimak obrolan singkat kami diatas meja batu.

MB : Mejabatu , ADP : Aditya Dwi Putra

MB : Cil, coba kita mulai dengan pertanyaan, gimana sih lo pada akhirnya memutuskan untuk membuat Depth of Blue ini? terus gimana ide ini bisa berkembang?

ADP : Sebenernya ini udah gue pikirin dari lama sih. Waktu jaman cakru, gue dikasih referensi dari Lens Culture sama super-V gue, terus gue nemu proyek fotografi oleh Martin Bogren yang judulnya ‘Tractor Boys’. Serial foto itu meninggalkan kesan buat gue. Rasanya ngeliat foto itu gue jadi inget satu genre lagu yang spesifik. Kesan itu membuktikan kalau visual pun dapat ‘didengar’ dan gue yakin begitu pula sebaliknya.

dfb4739543a4f9b9fbddbeec80b0dfda-large

Lama setelah itu gue dapet tugas dari kelas Fotografi Seni untuk bikin proyek fotografi yang konsepnya dibebaskan. Lantas gue kepikiran yang pernah gue pikirin pas cakru. Gue akhirnya mutusin untuk bikin proyek foto yang bisa ‘didengarkan’.

Awalnya gue memilih beberapa lagu yang ingin gue interpretasikan, terus gue asistensi lagu-lagu itu ke dosen dan asdos gue. Menurut mereka lagu-lagu itu masih kurang konsisten jika disatukan dalam satu seri. Minggu depannya gue tunjukkin pilihan lagu gue yang baru dan pilihan itu bertema ‘blue’. ‘Blue’ gue interpretasikan sebagai mood depresi. Tema ini gue pilih karena cukup familiar makannya ga terlalu sulit mikirnya.

MB : Kan musik itu elemennya banyak, ada judulnya, ada liriknya, ada instrumennya, ada vokalnya, dan lainnya, nah kira-kira lo ingin menginterpretasi apanya dari musik-musik yang lo pilih itu?

ADP : Kalo gue dengerin lagu, gue seneng rasain moodnya. Gue memang melihat judulnya dan merhatiin liriknya tapi itu bukan concern utama gue. Karena gue ingin karya gue bisa dinikmati oleh semua orang yang bisa melihat dan bisa merasa, sedangkan kalau gue banyak menginterpretasi lirik secara detail, gue akan membatasi penikmat karya gue.

MB : Apakah lagu yang lo pilih ini punya keterkaitan personal dengan kehidupan lo?

ADP : Kalau dari pengalaman mungkin engga terlalu gue inget, tapi kebiasaan gue menonton film-filmnya Darren Aronofsky seperti Requiem for a Dream cukup berpengaruh sama pemilihan lagu gue. Karena mood di film-film itu kurang lebih mirip dengan mood lagu-lagu yang gue pilih, yaitu mood depresi. Kalo bisa dibilang gue itu senang melihat orang menderita haha.

requiem-for-a-dream.png

OH, gue baru inget, ada pengalaman yang berhubungan dengan alasan kenapa gue cukup familiar dengan mood depresi. Gue pernah depresi parah ketika gue gagal masuk FSRD tahun 2012. Padahal gue ingin banget masuk FSRD, cuman gue sadar gue harus effort lebih. Akhirnya gue kursus di vilmer selama setahun dan coba lagi di tahun 2013. Sayangnya, lagi-lagi gue gagal masuk FSRD dan akhirnya keterima di SBM. Untungnya, karena gue sempet depresi parah setahun sebelumnya dan gue merasa selama gue belajar di vilmer gue dapet banyak inspirasi yang mendorong gue untuk jadi manusia yang lebih baik, jadi gue lebih banyak bersyukur tahun itu haha.

MB : Kalau gue liat-liat ya cil, selera visual lo ini ‘agak berbeda’ dengan selera visual pada umumnya di LFM. Sebenernya apa yang menginspirasi lo untuk membuat visual-visual seperti ini?

ADP : Dari awal gue emang udah ga suka foto ‘bagus’ kaya definisi orang-orang pada umumnya. Gue gasuka ngikutin aturan komposisi, aturan fokus, aturan detail, dan aturan lain yang membatasi imajinasi gue.

Kalau gue perhatiin justru foto-foto ‘bagus’ ga membuat penikmat diem lebih lama, mereka bakal cuman liat, “Oh bagus ya!”, terus pergi dan lupa. Justru foto-foto noise-blur atau foto-foto yang ga banyak ngikutin aturan baku selalu membuat gue diem lebih lama untuk mencoba membaca atau sekedar merasa.

Kalau inspirasi visualnya, gue banyak terpengaruh dengan film-film depresi yang gue sebutin sebelumnya dan artwork cover CD album musik di era 90an. Misal Sonic Youth, My Bloody Valentine, atau lagu-lagu beraliran shoegaze. Menurut gue visual kaya gini yang bikin gue lebih ngena dibanding visual-visual yang ‘bagus’ karena ngikutin aturan-aturan fotografi.

lp06r

MB : Kan karya lo ini sekaligus tugas dari mata kuliah lo kan, terus pasti kan ada pembimbingnya entah itu dosen atau asisten, menurut lo dengan adanya mereka ini membatasi kreatifitas lo atau justru menguntungkan lo?

ADP : Syukurnya, Pak Icuz ga pernah ngebatesin konsep apapun yang dibawa sama muridnya. Justru dia bisa provide referensi dari konsep apapun yang kita ajukan! Tapi, ada asistennya namanya Mba Asri, dia ceplas-ceplos banget kalau kita asistensiin karya kita. Cuman untungnya gue jadi dapet feedback yang jujur dari orang yang melihat karya gue tanpa melihat siapa pembuatnya.

MB : Selama proses berkarya lo di kelas Fotografi Seni ini apakah ada ilmu-ilmu baru tentang fotografi yang lo belum dapatkan di pendidikan cakru LFM?

ADP : Gue mulai dari yang sama deh ya. Kalau soal teknisnya sih sama-sama aja, kaya exposure trio dan hal-hal lainnya. Nah ini nih bedanya, kalau disono gue selain dapet teknis gue dibuka wawasan fotografi yang lebih luas, dari mulai sejarah-sejarahnya, karya-karya seni yang menggunakan medium fotografi, dan banyak hal. Dari situ wawasan gue bertambah luas, dan gue melihat lebih banyak pilihan untuk berekspresi melalui fotografi.

Selain itu lingkungan juga pengaruh banget sama produktifitas gue. Di kelas itu gue sangat terdorong untuk lebih menggali konsep gue, soalnya anak-anak SR di kelas itu konsepnya lebih keren dari konsep gue.

Bahkan gue justru jadi lebih bisa membaca pola produktif diri gue sendiri. Gue menemukan kalau gue sangatlah perfeksionis sama karya gue sendiri.

Gue ga akan ragu untuk mengulang kerjaan gue untuk hasil yang lebih mendekati pikiran gue. Gue rela semedi di ruangan gue selama berbulan-bulan kepikiran hanya untuk menyempurnakan karya gue.

MB : Nah terakhir nih cil, kan tadi lo menemukan perbedaan kultur keseharian di LFM dengan lingkungan lo di kelas itu, kira-kira lo punya pandangan ga tentang hal ini?

ADP : Yang paling penting itu wawasan, kita harus banyak baca buku, nonton film dan denger musik yang ga selalu berhubungan dengan fotografi. Karena secara ga sadar hal-hal ini sangat memengaruhi pola lo dalam berkarya. Karena menurut gue fotografi pada ujungnya hanya sarana untuk ngeliatin cara gue ngeliat ke orang lain. Untuk memperkaya foto gue, berarti gue perlu memperkaya cara pandang gue dengan membuka wawasan tadi.

Terus kan Kak Rana tuh ingin bawa LFM yang eksploratif dan eksperimental, menurut gue hal itu tuh bukan hal yang instan, yang lo baca-baca yang eksploratif sekali dan lo langsung akan jadi eksploratif. Tapi perlu lingkungan juga yang mendukung produktifitas karya-karya yang eksploratif biar satu sama lain terdorong untuk membuat karya terbaik menurut versinya masing-masing. Ya mungkin bisa dimulai dengan memunculkan sosok-sosok eksploratif macem Jarek. Menurut gue ga begitu sulit nimbulin lingkungan ini, cukup beri sedikit effort lebih aja.

Ya kurang lebih begitulah bincang-bincang santai gue sama Anggun Priambodo KW super ini. Semoga pengalaman dia bisa menjadi pelajaran untuk kita lebih bersemangat menghasilkan karya terbaik dalam versi kita masing-masing.

Sila ditanya langsung aja ke orangnya barangkali ada pertanyaan yang belum saya wakilkan di obrolan ini. Makasih udah mau bacaa!

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *