Testimoni Eksibisi #1 : Pameran Buku Foto di Goethe – Bercakap dengan Mas Wid (1)

Sebuah cerita menarik dari Mas Kurnidi Widodo sempat saya dengar sayup-sayup dari tempat duduk bagian belakang. Flock Project Vol.1 sempat dicoba untuk dibawa ke Post Santa dengan mengadakan diskusi pada launching-nya. Post Santa sendiri adalah sebuah toko buku alternatif yang berada di Pasar Santa, Jakarta. Yang saya tahu, pengunjung Post Santa biasanya adalah pencinta-pencinta buku, yang terdiri atas huruf-huruf dan sesekali ilustrasi atau visual apapun. Jarang ada yang bercengkerama apalagi bergulat dengan buku-buku foto, katanya. Inisiatif yang dilakukan oleh Mas Wid ini dimotivasi oleh keinginannya akan membaurnya buku foto di kalangan pembaca non-fotografer, selayaknya buku biasanya.

“Supaya tidak jadi masturbasi massal,” katanya bercanda.

Saya sendiri juga merasa kikuk sebetulnya kalau membaca buku foto. Sementara yang masih ternalar dengan baik adalah buku-buku foto jurnalisme seperti Pabean Passage (Anton Gautama), Exile (Rosa Panggabean), atau Rider of Destiny (Romi Perbawa) yang ada pada pameran buku foto di Goethe Institute Bandung. Meskipun sudah eksplisit dengan objek dan gagasannya, hubungan satu foto dengan foto lainnya masihlah perlu diraba-raba. Apalagi membaca buku foto macam After N (Gregory Rusmana) atau The New Sun (Rian Afriadi) adalah pekerjaan berat, seperti membaca puisi-puisi gelap. Saya masih banyak meraba-raba, karena nyatanya membaca buku foto laiknya buku biasa cukup berbeda.

“Foto yang ini dideskripsikan saja setiap elemennya, warnanya, dan objeknya. Kemudian lihat hubungannya dengan foto berikutnya. Kadang-kadang relasinya mirip dengan cutting dalam film (sinema),” ujar Mas Wid sembari membolak-balik selembar dengan satu foto di lembar depan dan foto lain di lembar belakang. Mas Wid mendeskripsikan dan meresensi habis satu buku foto, Sebuah Perjumpaan!  (Dyah Agustini), hasil lokakarya di Goethe Bandung juga.

Klik!

Mungkin itulah yang harus saya lakukan ketika membaca buku foto. Daripada membiarkan diri terbawa arus emosi yang tak mampu jadi deskripsi, atau hanya termangu dalam kalut warna-warna gelap dan gambar buram, deskripsikan saja seluruh hal yang dideskripsikan! Setiap kata yang muncul dari deskripsi kasar inilah yang saya kira dengan sendirinya dirangkai oleh otak kita menjadi serupa huruf-huruf di dalam buku-buku biasanya.

Catat dan ujarkan saja kata-kata “gelap”, “kusam”, “terang”, “putih”, “tajam”, atau “cerah” kalau itu yang didapat pertama kali. Setelah semua hal yang berhubungan dengan warna habis, mulai dengan objeknya : “anak kecil berlari”, “awan mendung”, “langit bersinar”,  atau “laut berkilauan” yang dikeluarkan seluruhnya. Dari kata-kata ini tentulah dapat dirangkai menjadi sebuah kalimat padu yang menjadi deskripsi terutuh yang bisa kita dapatkan dari satu foto, bahkan tanpa caption.

Membaca foto tak alihnya sebetulnya dengan berbicara dengan Heptapods di film Arrival. Hanya butuh penerjemahan yang (seolah) sulit di awal. Tapi tentu makin banyak membaca proses penangkapan informasi dari satu foto menjadi jauh lebih cepat. Kalau sudah tentu jadi lebih paham hubungan antar foto dengan foto berikutnya. Kemudian menjadi lebih peka dengan susunan foto tersebut di halaman-halaman, yang berserakan atau yang spread. Kemudian lebih peka bahkan dengan medium cetak buku itu sendiri.

Segalanya adalah tak ubahnya sebuah medium komunikasi. Namun mungkin fotografer lebih suka berteriak dengan medium visual yang satu ini. Lalu saya sebagai pembaca hanya dapat berusaha sekeras-kerasnya membaca penanda-penanda di dalamnya. Niscaya didalam buku-buku foto ini tedapat gagasan yang menunggu untuk dicerna. Masakan kemudian buku-buku foto ini dikebas lembanrya begitu saja bersama ujar wih-keren ? Kan, sayang!

-Albertus Wida Wiratama

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *