Testimoni Eksibisi #1 : Pameran Buku Foto di Goethe – Cerita Beken Orang-Orang Keren (2)

 Tanggal 21 Januari 2017 lalu, saya dan beberapa teman kruba saya mengunjungi acara Pameran Buku Fotografi 2016 ( ya, betul sekali, tahunnya 2016 ) di Goethe Institut Bandung. Disana saya bertemu dua kru lainnya yaitu Kak Obe dan Kak Raga. Acara ini terdiri dari rangkaian eksibisi buku foto, lokakarya, dan diskusi bersama peserta lokakarya tersebut. Buku foto yang dipajang merupakan buku foto nominasi maupun pemenang dari Deutsches Fotobuchpreis (German Photobook Award) yang berasal dari Indonesia, Jerman, dan Jepang.

Yang menarik saya untuk datang ke acara ini sebenarnya adalah Kak Farraz yang berhasil menjadi peserta lokakarya dan akhirnya melahirkan sebuah buku foto berjudul Kembara Institute of Life. Tapi ternyata setelah melihat deretan buku foto yang dipamerkan, saya semakin bersemangat untuk menjelajahi buku-buku dengan jenis yang bisa dibilang sangat baru untuk saya. Saya juga sangat senang bisa berbincang dengan beberapa fotografer pada malam itu.

Saya gak ingat banyak, tapi salah satu yang sangat berkesan adalah sosok Zulfikar Iqbal dengan karya dan ide-ide doi yang [menarik]. Salah satunya adalah buku fotonya yang berjudul City of Illusion. Foto-fotonya dipasang sebagai spread dua halaman, pada 1 sisi lembar kertas. Maka ketika buku fotonya dibuka, yang terlihat adalah foto A & B, berikutnya B & C, sampai pada akhir halaman foto B & A lagi yang terlihat. Pemilihan sequencing juga diperhatikan, sehingga memberikan hubungan-hubungan intim nan kompleks antar fotonya (meskipun saya sendiri masih abu-abu memikirkannya). Halaman-halaman dalam buku tersebut hanya disatukan dengan karet, bukan dengan lem ataupun stapler. Dia juga menyelipkan satu buah foto yang dicetak khusus diatas kertas kalkir, yang saya temui sangat unik (maaf ya saya lupa kenapa saya terpengarah dulu). Kak Zulfikar tidak berhenti pada proses memotretnya, namun juga membentuk kemasan buku fotonya yang disesuaikan dengan gagasan yang ia ingin bawa. Hal ini sangat membuka mata dan menginspirasi saya!

Selain karyanya, ada satu gagasan yang paling menempel di kepala saya. Lokakarya macam ini menurutnya membuat semangat berkaryanya berkobar-kobar, ketimbang pretensi menjepret foto yang sebagus-bagusnya. Ia merasa harus menyelesaikan buku fotonya, bukan sekedar terfokus pada 1 still image masterpiece yang justru malah membuat ruwet proses kreatifnya. Ibaratnya seperti bekal makanan : kalau teknis dan pengetahuan adalah berfotografi, tetap butuh inisiatif untuk makan supaya kenyang, kan? Apa guna jadi jago kalau tidak dilaksanakan?  

Saya juga sangat beruntung bisa ngobrol sedikit bersama Kak Nyimas Laula setelah dikenalkan oleh Kak Obe. Kak Nyimas adalah kru LFM ITB  yang sempat saya baca tulisannya mengenai pengalaman beliau mengikuti Magnum Photos Lokakarya bersama David Alan Harvey, yang ternyata setelah saya googling merupakan sebuah lokakarya yang diselenggarakan oleh Magnum Photo. Sangat bergengsi dikalangan fotografer kelas dunia ternyata!

Saya juga tertarik dengan buku hasil lokakaryanya yang berjudul Her Last Day of Work berisi foto-foto Ibunda dari Kak Nyimas. Saya dapat merasakan kesan-kesan personal yang sangat keseharian : daster ibunya, memasak, dan scene-scene rumah. Adanya portrait yang super dekat juga sebuah eksposur keintiman. Namun saya membayangkan pada prosesnya projek ini menjadi sebuah pengalaman memotret yang sangat menyenangkan.

“Ma, ini di-publish ya,” adalah ujaran yang mungkin keluar ketika memotret objeknya. Selain hasil akhir foto yang ditampilkan, proses pengambilan gambar itu sendiri tidak kalah menarik karena dalam proses tersebut terdapat lebih banyak lagi ceritanya. Sebuah foto kemudian tidak hanya memberikan kesan dan gagasan, namun juga bisa memberikan pengalaman memotret itu sendiri kepada pembaca (berarti). Mungkin itu yang membuatnya terasa personal juga?  

Pengemasan bukunya juga menarik, sangat eye-catching menilai ukuran bukunya yang bisa dibilang jauh lebih besar dari buku-buku lain. Saya jadi penasaran kenapa Kak Nyimas memilih untuk membuat buku sebesar itu. Lebih spesial, lebih dekat, mungkin?

Setelah berbincang sebentar dengan Kak Nyimas dan diusir penjaga perpustakan Goethe Institut Bandung, saya memutuskan untuk kembali ke LFM. Di Ruang Santai, saya mencari buku menarik yang bisa saya baca sembari menunggu pulang. Saya pun tertarik dengan sebuah buku berjudul A New Sun karena buku tersebut sempat disinggung oleh Kak Zulfikar saat berbincang kecil.

Awalnya saya gak ngerti foto-fotonya yang unik dan aneh, tapi semua pertanyaan itu terjawab diujung buku. Ujung buku ini membuat saya sangat terkesan terhadap konsepnya, yaitu cara sang fotografer menyampaikan ide bahwa tidak perlu teknik yang luar biasa, tidak perlu kamera canggih, dan tidak perlu momen sekali seumur hidup untuk mendapatkan foto menarik, hanya perlu kesadaran terhadap detil sekitar atau sudut pandang yang berbeda.

Saya jadi semakin kebelet untuk motret! Tapi sebenarnya, saya adalah salah satu oknum yang hanya kebelet saja, lebih sering membohongi diri dan menyatakan bahwa saya tidak punya waktu untuk motret.

Padahal seperti disebutkan sebelumya kita hanya perlu membawa kamera sesering mungkin, melihat lapangan, dan tentu saja mengambil foto tanpa menunggu waktu-waktu hunting!

-Claudia “Echong” Natasha

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *