Workshop Personal Project dan Photobook

Workshop Apaan Nih?

Saya rasa awal tahun 2017 ini telah cukup memaksa saya untuk menelan banyak kabar. Dari mulai pengumuman hasil IPK hingga pengumuman kesempatan lokakarya Photographer’s Personal Project and Photobook di Goethe Bandung. Dua berita, sama-sama tentang edukasi, tetapi berbanding terbalik dalam segala halnya. Oleh karena itu saya hanya ingin berbagi cerita salah satunya saja (tentang lokakarya tentunya!).

Lokakarya Photographer’s Personal Project and Photobook diselenggarakan oleh Goethe Institute Indonesia dalam satu rangkaian acara dengan Pameran Buku Fotografi 2016. Perekrutan peserta dibuka kepada siapapun yang berminat dengan menyerahkan portfolio fotografinya. Saya mencoba mendaftarkan diri dan akhirnya dinyatakan berhak mendapatkan kesempatan mengikuti lokakaryanya.

Mentor dalam lokakarya ini adalah Kurniadi Widodo (salah satu penggagas Flock Project), Ng Swan Ti (mentor dari Pannafoto Institute), dan Andi Ari Setiadi (pendiri Gueari Galeri di Pasar Santa). Dua dari ketiga mentor ini sudah saya ketahui nama dan karyanya, sehingga ada perasaan jiper ketika tahu akan dibimbing oleh mereka.

Nama dan latar belakang pesertanya pun tidak kalah membuat saya jiper karena saya satu-satunya mahasiswa. Ditambah lagi ketika saya melihat nama Nyimas Laula dalam daftar nama peserta. Karena sejak saya masih menjadi calon kru LFM, nama dan pencapaian Nyimas sudah dikenal diantara teman-teman saya, apalagi ketika Nyimas nge-roast photoproject karya Albertus (Obe). Hehe.

Diskusi Personal (Photo) Project

Kegiatan lokakarya ini dibuka dengan diskusi tentang personal photo project (red: personal project) itu sendiri. Dengan dipandu oleh mbak Swanti, beliau menanyakan kepada setiap peserta tentang apa itu personal project kemudian mendiskusikannya satu persatu. Pada intinya kami membahas isu yang dibahas hingga pentingnya perspektif dalam pembuatan personal project. Selain itu kami pun mempresentasikan narasi projek foto yang sedang kami kerjakan kepada para mentor dan peserta. Detail pembahasan ini dimuat pada artikel terpisah.

Editing dan Sequencing

Sesi berikutnya adalah pembahasan editing dan sequencing. Terdengar asing, ya?

Mungkin sebagai kru LFM kata editing cukup lazim di dengar entah itu  dalam videografi ataupun  fotografi menggunakan proses digital imaging. Namun editing disini lebih mirip dengan editing video, yaitu memilih foto-foto yang dapat masuk ke dalam narasi dalam sebuah projek foto. Salah satu cara termudah untuk memilih adalah dengan mengeliminasi foto yang tidak masuk ke dalam narasi.

Sedangkan sequencing adalah proses penyusunan foto yang telah diedit untuk membangun narasi. Foto-foto dibeberkan diatas meja, kemudian dicoba dibuat beberapa pilihan alurnya. Setelah itu hasil alur tersebut didiskusikan antara mentor, pembuat karya, dan peserta-peserta lainnya hingga mendapat sequence akhir.

Layouting, Visual Designing, dan Reviewing

Bagian ini merupakan tahap-tahap terakhir dari pembuatan personal project dalam bentuk photobook. Dalam tahap ini kita merencanakan tampilan visual buku yang akan dinikmati oleh pembaca. Perencanaan ini perlu dilakukan sematang mungkin bahkan hingga ke teknis percetakannya.

Ketika desain dalam bentuk softcopy sudah final, kita perlu melakukan review terhadap buku kita sendiri. Dengan simulasi dari InDesign kita dapat merasakan pengalaman membaca photobook kita. Namun, review ini perlu diulang ketika photobooknya sudah menjadi bentuk fisik atau sering disebut dummy photobook karena simulasi menggunakan software kurang cukup mewakili pengalaman pembaca.

Presentasi dan Diskusi Karya

Setelah semua dummy photobook selesai dicetak kami mengundang orang-orang untuk menyimak presentasi dari kami. Namun sayangnya karena waktu yang terbatas, hanya beberapa karya saja yang dipresentasikan.

Saya sangat senang dengan kehadiran kru-kru pada sesi presentasi ini, terutama kru-kru baru, Alya, Laras, Mayang, Econg, Iyus, Ayas, dan Musa. Pada awalnya saya ingin mengenalkan mereka dengan Nyimas dan teman-teman sekelas lainnya, tetapi ternyata mereka sudah memperkenalkan diri dan mengobrol dengannya lebih dulu!

Semangat macam inilah yang perlu tumbuh liar dan berkembang biak. Dorongan yang tidak mengenal barrier apapun untuk memperluas referensi yang dapat menjadi pemicu lahirnya legenda-legenda baru di LFM.

Selama tiga hari ini saya telah terpapar dengan pengaruh positif dari figur-figur yang dapat saya jadikan panutan. Namun saya berharap pengaruh itu tidak berhenti sampai di diri saya saja, karena itulah saya membuat tulisan ini. Karya mungkin bukanlah hal yang utama dan satu-satunya di LFM, tetapi semangat menciptakan dan menjadikan sebuah karyalah yang perlu kita tanam bersama-sama.

16265702_10210183517257944_4805485601350867146_n.jpg


Peserta-peserta workshop lainnya

Nyimas Laula

Fully Syafi

Allan Arthur

Dyah Agustini

Andi Sudjana

Baskara Puraga

Emil Misbach

David Yuan Mada

– Farraz Akbar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *